Senin, 29 Juni 2009

Mesir Ajukan Pembelian 24 F16 Block 52

F16 Block 52 milik AU Yunani. (Foto: military-photos)

29 Juni 2009 -- Mesir meminta Amerika Serikat mengirimkan 24 unit pesawat tempur Lockheed Martin F 16 Block 52 guna meningkatkan kemampuan angkatan udaranya.

Sebelumnya Mesir mengajukan pembelian pesawat tempur F16 Block 52 tetapi ditolak oleh pemerintahan Bush terkait catatan HAM dan demokrasi. Pemerintahan Obama menyetujui permohonan Mesir sesuai laporan Joseph Farah di G2 Bulletin.

Mesir meminta AS memasok 24 F16 Block 52 beserta amunisinya, berikut amunisi untuk helikopter tempur Apache Longbow, sistem pertahanan udara bergerak, dan Joint Direct Attack Munition (JDAM). Pabrik pesawat Lockheed Martin mengakui telah dikonfirmasi perihal permintaan Mesir ini sesuai pernyataan CEO Lockheed Martin Robert Stevens.

Saat ini, AU Mesir mengoperasikan 220 unit pesawat tempur F16 terdiri dari 42 F16 A/B Block 42, 40 F16 C/D Block 32, dan 138 F 16 C/D Block 40. Mesir mulai menerima F16 tahun 1980 hingga 2002 melalui program Foreign Military Sales (FMS), serta mengakuisisi F16 bekas pakai AU Belanda dan Turki. Pesawat tempur baru tersebut akan menggantikan sejumlah pesawat tempur lama.

DEFPRO/@info-terkumpul

Pembangunan Kavaleri Tank TNI di TTU Dilanjutkan


29 Juni 2009, Kupang -- Rencana pembangunan Batalyon Infanteri (Yonif) Kompi Kavaleri (Kikav) Tank di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) Nusa Tenggara Timur (NTT) tetap dilanjutkan oleh TNI, walaupun ada aksi penolakan dari pemerintah daerah dan masyarakat di kabupaten tersebut.

"Penolakan tersebut bukan merupakan bagian tugas dari otonomi daerah (Otda) karena setiap jengkal tanah dipertahankan secara sentralistik atau negara yang akan mempertahankan tanah ini," kata Pangdam IX Udayana, Mayjen TNI Hotmangaraja Pandjaitan, di Kupang, Senin (29/6).

Dia mengatakan, upaya menyiapkan kekuatan pasukan TNI itu adalah untuk mencegah berbagai kemungkinan yang tidak diinginkan. Karena itu, pada 10 tahun mendatang akan dibangun Kikav Tank di kabupaten tersebut, jika pembangunan dalam waktu dekat ini mendapat reaksi dari sejumlah elemen masyarakat.

"Pembangunan Kikav tersebut baru rencana, kemungkinan terwujudnya 10 tahun yang akan datang," katanya dan berharap seluruh masyarakat di wilayah itu memberikan dukungan terhadap pembangunan dan pembentukan satuan-satuan TNI di wilayah teresbut.

Dia menambahkan, pembangunan kavaleri tidak hanya untuk mempertahankan negara jika terjadi peperangan, tapi juga TNI dapat membantu masyarakat bila sewaktu-waktu terjadi bencana.

Ia mengakui, aksi penolakan sejumlah elemen dalam masyarakat TTU terhadap rencana pembangunan Kikav Tank, karena kurangnya sosialisasi yang dilakukan pihaknya.

"Saya yakin itu kurang sosialisasi kepada masyarakat sehingga mereka menolak, karena masyarakat ketahui, jika bicara TNI sama dengan perang. Tidak seperti itu," katanya.

Pembangunan dan pembentukan satuan TNI, lanjut dia, sangat diperlukan di wilayah yang dinilai strategis tersebut, terutama dalam upaya menangkal ancaman dan gangguan dari luar mengingat daerah tersebut berbatasan langsung dengan Timor Leste.

"Jadi, tujuan dibentuknya satuan baru tersebut merupakan program dari pemerintah pusat di bidang Hankam --pertahanan dan keamanan-- untuk kepentingan bangsa dan negara, bukan semata-mata untuk kepentingan TNI," katanya.

Selain itu, lanjutnya, pembentukan satuan baru TNI dan pembangunan kavaleri tank di NTT memberikan kontribusi positif bagi pengembangan ekonomi daerah, sehingga kesejahtraan masyarakat meningkat.

"Dengan pertahanan yang kuat, maka tidak ada negara lain yang mengklaim wilayah Indonesia menjadi wilayah mereka," katanya.

Dengan kekuatan yang kuat pula, kata putra pahlawan nasional DI Pandjaitan ini, pihaknya dapat melakukan pengawasan, penjagaan dan pengamanan di setiap jengkal wilayah termasuk pulau-pulau terdepan di daerah perbatasan.

MEDIA INDONESIA

Minggu, 28 Juni 2009

Survival Tempur Koopsau II Dibuka Di Lanud Iswahjudi


29 Juni 2009, Magetan -- Dalam upaya mengantisipasi tugas operasional Koopsau II yang makin meningkat, maka profesionalisme kesiapsiagaan personel awak pesawat sangat penting, sehingga Koopsau II mengadakan latihan Survival Tempur yang dibuka oleh Pangkoopsau II yang diwakili Asops Kas Koopsau II Kolonel Pnb Bonar Hutagaol dalam suatu upacara militer di lapangan apel Dirgantara Lanud Iswahjudi, Senin (29/6).

Latihan berlangsung selama empat hari, dibagi dalam dua tahap, masing-masing dalam bentuk Bina Kelas yang dilaksanakan pada hari pertama di Batalyon 463 Paskhas selanjutnya manuver lapangan mengambil lokasi dikawasan hutan dan pantai Prigi Kabupaten Trenggalek.

Latihan Survival Tempur dengan sandi ”Wanatirta Yudha 2009”, menurut Pangkoopsau II dalam sambutan tertulisnya, bertujuan memberi bekal kemampuan khusus bagi awak pesawat dalam menghadapi situasi darurat baik di darat maupun di air jika pesawat yang diawakinya mengalami accident di daerah musuh. Disamping itu juga untuk melatih dan menguji kemampuan fisik dan mental awak pesawat sehingga mampu survive sekaligus menyelamatkan diri.

Lebih lanjut dikatakan, mengingat latihan tersebut dilaksanakan di daerah yang berpenduduk / warga masyarakat sipil, maka para peserta latihan diwajibkan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan selama latihan berlangsung. Untuk itu, para peserta diharapkan selalu mengikuti petunjuk dan memahami seluruh materi yang diberikan serta memperhatikan prosedur yang berlaku.

Latihan diikuti oleh 60 orang Survivor terdiri dari perwira penerbang dan perwira teknik dari Skadron udara yang berada dibawah jajaran Koopsau II, diantaranya Skaraon Udara 3,14,15 Lanud Iswahjudi, Madiun, Skadron Udara 4,21,32 Lanud ABD Saleh,Malang dan Skadron Udara 5,11 Lanud Sultan Hasanuddin, makassar.

Pentak Lanud Iswahjudi

India ciptakan granat cabai

Bhut Jolokia. (Foto: chileseeds.co.uk)

26 Juni 2009 -- Ilmuwan pertahanan India berencana membuat granat tangan dari salah satu cabai paling pedas sedunia.

Mereka mengatakan granat ini berguna untuk mengontrol kerusuhan dan dalam sebuah operasi melawan pemberontakan.

Peneliti mengatakan idenya adalah dengan mengganti alat peledak di dalam granat tangan dengan beberapa varian cabai merah guna melumpuhkan orang tanpa harus membunuh mereka.

Cabai paling pedas sedunia yang diketahui bernama Bhut Jolokia itu disebut-sebut 1.000 kali lebih pedas dari cabai yang biasa dipakai dirumah.

Para peneliti di organisasi riset dan pengembangan pertahanan ini dukutip mengatakan cabai ini juga manjur digunakan sebagai bumbu tambahan makanan oleh pasukan saat operasi militer di cuaca dingin.

Dan bubuknya juga bisa disebar dipagar sekeliling barak militer dengan harapan wangi yang menyengat akan menghindarkan dari gangguan binatang.

Bentuk lain dari semprotan lada selama ini telah dikenal secara luas dibanyak dunia.

Penelitian Bhut Jolokia

Pada tahun 2000, Ritesh Mathur, R.S. Dangi, S.C. Dass dan R.C. Malhotra para ahli dari Defense Research and Development Establisment, Defence Research Labotary, Tezpur, India menerbikan jurnal yang dimuat di Current Science, Vol. 79, No. 3, 10 Agustus 2000. Menemukan Bhut Jolokia/Naga Jolokia dari varitas Tezpur mempunyai skala Scoville Heat Units (SHU) tertinggi, dari empat varitas lainnya; Gwalior, Patna, Guntur dan Kashmir.

Para ahli tersebut mengeringkan cabai kemudian diekstraksi dengan acetone, konsentrat hasil ekstraksi dianalisa menggunakan HPLC (High Performance Liquid Chromatography). Hasil analisa dikorelasikan dengan skala Scoville, 15 Scoville sebanding dengan 1 ppm capsaicin dan capsaicinoid. Capsaicin zat didalam cabai yang membuat pedas.

Varitas Tezpur mempunyai skala 855.000 SHU, bila seorang makan satu gram cabai ini harus minum air gula sedikitnya 855 liter untuk menghilangkan rasa pedas. Skala Scoville digunakan mengukur rasa pedas, dibuat seorang ahli farmasi Wilbur Lincoln Scoville tahun 1912. Varietas Tezpur merupakan cabai terpedas di dunia, “Red Savina” Habanero hanya 577.000 SHU, cabai terpedas di Thailand 100.000 SHU.


BBC/@info-terkumpul

India Akan Terima 3 Frigate Krivak Pada 2012

INS Tabar. (Foto: indiannavy.nic.in)

28 Juni 2009 -- Rusia membangun tiga kapal frigate kawal rudal kelas Krivak IV Project 11356 untuk Angkatan Laut India di galangan kapal Yantar di Baltik, Kaliningrad, Rusia. Ketiga kapal tersebut bagian dari kontrak senilai USD 1,6 milyar, ditandatangani Juli 2006.

Batas waktu kontrak tahun 2012, jadwal penyerahan tidak tertunda sesuai pernyataan direktur galangan kapal Yantar Igor Orlov di IMDS ke-4 di St. Petersburg, Jumat (26/6).

Delegasi resmi militer India dipimpin wakil KASAL India Laksamana Madya Raman P. Suthan berkunjung ke galangan kapal Yantar Oktober 2008, mengatakan puas dengan kemajuan dan kualitas konstruksi.


INS Trishul. (Foto: indiannavy.nic.in)

Sebelumnya di tahun 2004, Rusia terlambat mengirimkan tiga frigate kelas Krivak, INS Talwar, INS Trishul dan INS Tabar ke India. Tiga frigate baru dipersenjatai dengan 8 sistem rudal jelajah supersonik anti kapal BrahMos, bukan sistem rudal Club-N/3M54TE yang dipasang pada tiga frigate sebelumnya.

Frigate kelas Krivak berbobot 4000 ton, mampu dipacu hingga 30 knot, serta dapat melakukan suatu misi maritim berjangkauan luas , terutama memburu dan menghancurkan kapal perusak berukuran besar serta kapal selam.

RIA Novosti/@info-terkumpul

Batalion ke-48 Singapura Operasikan MBT Leopard

Wakil Perdana Menteri dan Menteri Pertahanan Singapura Teo Chee Han menginspeksi kendaraan lapis baja yang ditampilkan pada perayaan ulang tahun ke-40 satuan lapis baja AD Singapura di kamp Sungei Gedong, Jumat (26/6).

28 Juni 2009 -- Wakil Perdana Menteri dan Menteri Pertahanan Singapura Teo Chee Han saat hadir pada parade perayaan ulang tahun satuan lapis baja Angkatan Darat Singapura (SAF/Singapore Armed Forces) ke-40, Jumat (26/6), meresmikan batalion ke 48 (48 SAR/Singapore Armoured Regiment) mengoperasikan Main Battle Tank (MBT) Leopard 2A4.

Tank telah turut serta latihan perang Wallaby di Australia, Oktober 2008. Pada latihan tersebut Leopard melakukan penembakan dengan peluru tajam pertama kalinya.




SAF dilengkapi dengan alutsista produk dalam negeri Singapura, Bionix Infantry Fighting Vehicles, Bronco All-Terrain Tracked Carriers dan Primus Self-Propelled Howitzers.


Aksi Bronco ATTC di latihan militer bertajuk Wallaby 2008 di Australia.

MINDEF/@info-terkumpul

Penambahan Pasukan Belum Diperlukan


27 Juni 2009, Samarinda -- Penambahan pasukan penjaga perbatasan Indonesia - Malaysia di Kalimantan dinyatakan belum diperlukan. Pertimbangannya antara lain, karena saat ini tidak ada lagi maneuver pesawat mapun kapal militer Malaysia di wilayah perbatasan.
“Situasi di perbatasan, terutama di Ambalat, aman dan kondusif,” kata Panglima Kodam VI/Tanjungpura Mayor Jenderal Suhartono Suratman, seusai serah terima jabatan Komandan Komando Resor Militer (Korem) 091/Aji Surya Natakusumah di Samarinda, Kalimantan Timur, Jumat (26/6). KomandanKorem 091 kini dijabat Kolonel Musa Bangun, yang menggantikan Kolonel Andi Ibrahim Saleh.

Mengenai pengemanan perbatasan Indonesia-Malaysia di Kaltim, menurut Suhartono, kawasan tersebut saat ini dijaga satu batalyon TNI Angkatan Darat (AD). Namun, ia menolak menyebutkan jumlah personel satu batalyon dimaksud.

“Kami tidak bias memberi tahu berapa dan seperti apa kekuatan di perbatasan, karena informasi bisa dipakai oleh negara lain (untuk hal-hal yang kurang menguntungkan Indonesia),” kata Kepala Penerangan Kodam VI Letnan Kolonel Bagus Antonov Hardito yang dimintai penjelasan.

Bagus hanya menekankan, garis perbatasan Indonesia - Malaysia di Kalimantan sepanjang 2004 kilometer (km). Sepanjang 1038 km diantaranya berada di Kaltim, sedangkan 966 km lainnya berada di Kalimantan Barat. “Di perbatasan terdapat 56 pos penjagaan,” katanya.
Di sepanjang garis perbatasan lanjut Bagus, ada 19.328 patok. Untuk menjaga satu pos, perlu kekuatan minimal satu peleton atau 30 personel.

Beberapa aparat TNI AD yang pernah ditemui di perbatasan mengatakan, dalam berpatroli, mereka tidak jarang menginap di hutan. Patroli berlangsung satu minggu sampai satu bulan, tergantung jarak satu pos ke pos lainnya yang dipantau.

Harian Kompas, Sabtu 27 Juni 2009