Rabu, 03 Juni 2009

Lagi, Kapal Malaysia Langgar Wilayah

2 April 2009, Sebatik -- Sejumlah anggota Korps Marinir dengan kapal angkatan laut (KAL) milik Lanal Nunukan, tiba di Dermaga Binalawan, Pulau Sebatik, Nunukan, Kaltim, Kamis (2/4) sore. Anggota Marinir tersebut sebagai pasukan pengganti Satgas Ambalat di Pulau Sebatik, yang merupakan pulau terluar Indonesia berbatasan langsung dengan Malaysia, Korps Marinir TNI AL akan menambah lima Pos Pengamanan Perbatasan baru (Sei Bajo, Sei Taiwan, Balansiku, Tembaring dan Bambangan) untuk memperkuat pertahanan dan pengamanan demi keutuhan dan kedaulatan NKRI di sekitar perairan Blok Ambalat. (Foto: ANTARA/Eric Ireng/hm/hp/09)

3 Mei 2009 -- Pelanggaran wilayah oleh kapal perang milik Tentara Laut Diraja Malaysia (TLDM) masih terjadi. Kemarin (2/6) kapal Malaysia kembali melanggar batas wilayah.

Menurut Lettu Nursalim, pilot pesawat Nomad P834 TNI-AL, kapal patroli Malaysia, KD Baung, kembali memasuki perairan Indonesia kemarin sekitar pukul 10.00 di titik koordinat 04 05 LU dan 118 09 BT hingga sejauh 2 mil. ''Itu menurut peta udara yang kami pegang,'' kata Nursalim kepada Radar Tarakan (Jawa Pos Group).

Saat berpapasan itu, pesawat Nomad tidak dapat berkomunikasi. Pilot Nomad lantas meminta bantuan KRI Suluh Pari yang kebetulan berada posisi terdekat dengan KD Baung. ''Kapal Malaysia terus diawasi sampai masuk Tawao,'' ujarnya. Nursalim mengungkapkan, haluan kapal Malaysia itu memang sedang menuju ke perairan Tawao. ''Mungkin mereka berlayar biasa,'' tambahnya.

Komandan Gugus Tempur TNI-AL (Guspurla) Armatim Laksamana Pertama TNI R.M. Harahap mengatakan, situasi di Ambalat saat ini masih biasa dan tidak menonjol. Meski begitu, pihaknya terus melakukan pengawasan di laut. ''Memang hari ini (kemarin, Red) ada kontak, tapi masih dalam jarak wajar. Kita tetap membayangi supaya jangan terlalu jauh masuk wilayah kita,'' katanya.

Dia menuturkan, meski kapal Malaysia beberapa kali memasuki wilayah Indonesia tanpa izin, TNI-AL tak akan menambah personel di lapangan, termasuk di Sebatik. ''Tetap dengan jumlah yang kita miliki sekarang (130 personel dengan 6 KRI),'' tuturnya.

Malaysia juga dilaporkan mengirim pasukan ke perbatasan dengan Indonesia. Warga di Pulau Sebatik menuturkan, Malaysia mengirim pasukan dengan cara menyamarkannya sebagai warga sipil. Negeri jiran itu mengedrop pasukan di Wallace Bay, di sekitar Kampung Begusong. Wallace Bay adalah nama yang diberikan pemerintah Malaysia pada wilayah daratannya yang satu pulau dengan Sebatik.

Menurut warga, ''pendatang baru'' di Wallace Bay itu memberikan pelatihan ilmu bela diri kepada penduduk di perkampungan tersebut.

Komandan Kompi Marinir Satgas Ambalat IX di Sebatik Kapten (Mar) Budi Santoso mengaku pernah mendengar hal itu dari penduduk. Namun, dia belum memastikan apakah orang-orang itu tentara Malaysia. ''Saat ini kami menindaklanjuti informasi itu,'' katanya. Penyelidikan dilakukan hati-hati agar tidak terjadi kesalahan tindakan yang justru menimbulkan konflik lain.

(Jawa Pos)

Konga XXII-C Masuki Musim Panas

Pasukan Konga XXIII-C menggelar apel gabungan di markas Indobatt. Pada apel ini, Dansatgas Konga XXIII-C menekankan kepada anggotanya agar mewaspadai bahaya pergantian musim tersebut. (Foto: detikFoto/Letkol Arh Hari Mulyanto)

3 Mei 2009, Libanon -- Setelah hampir enam bulan bertugas dalam suasana dingin, pasukan Konga XXIII-C mulai merasakan panasnya suhu di Libanon. Pada pergantian musim ini, Dansatgas Konga XXIII-C menekankan kepada anggotanya agar mewaspadai bahaya pergantian musim tersebut.

Meskipun panas menyengat, pasukan Konga XXIII-C tetap menjalankan tugas mereka. Tampak dua buah tank milik Konga XXIII-C melakukan patroli. (Foto: detikFoto/Letkol Arh Hari Mulyanto)

Pergantian musim dari dingin ke panas membuat para prajurit yang semula berpakaian rangkap dan berjaket kini menanggalkannya. (Foto: detikFoto/Letkol Arh Hari Mulyanto)

Dataran tinggi di Libanon Selatan yang semula tertutup salju dan penuh dengan bebatuan kini berubah kering dan tandus. (Foto: detikFoto/Letkol Arh Hari Mulyanto)

Selasa, 02 Juni 2009

AS-202 Bravo Terbang Navigasi Jarak Sedang Transit di Lanud Iswahjudi

Tiga Pesawat AS-202 Bravo melaksanakan terbang formasi dalam rangka terbang Navigasi Jarak Sedang di Lanud Iswahjudi, Rabu (3/6). ( Foto: Pentak Lanud Iswahjudi)

3 Mei 2009, Magetan -- Setelah selesai melaksanakan latihan terbang Navigasi Jarak Dekat (NJD) selama 4 hari (27 s.d. 30 Mei 2009) dengan rute Lanud Adisoemarmo ke Lanud Iswahjudi, sejumlah Siswa Sekolah Penerbang (Sekbang) PSDP (Prajurit Sukarela Dinas Pendek) TNI angkatan 24 tahun 2009 melaksanakan latihan terbang Navigasi Jarak Sedang (NJS) menggunakan pesawat latih AS-202/Bravo dan transit di Lanud Iswahjudi, Magetan, mulai hari Minggu (31/5).

Latihan terbang Navigasi Jarak Sedang (NJS) telah berlangsung selama empat hari mulai tanggal 31 Mei s.d. 3 Juni 2009 dengan menempuh rute dari Lanud Adisoemarmo, Solo, Lanud Iswahjudi diteruskan ke Lanud Juanda Surabaya. Sebaliknya, dari Lanud Juanda kembali ke Lanud Iswahjudi dan berakhir di Lanud Adisoemarmo, Solo.

Melibatkan sembilan siswa dari 17 Siswa Sekbang PSDP angkatan 24 tahun 2009,sepuluh instruktur pemantau dan sepuluh pesawat latih mula AS-202 Bravo, Skadron Pendidikan (Skadik) 101 Lanud Adisutjipto, Yogyakarta.

Komandan Skadron Pendidikan (Skadik) 101 Letkol Pnb M. Dadan Gunawan usai mendarat dengan pesawat AS-202/Bravo yang diterbangkan dari Surabaya, Rabu (3/6) pada saat istirahat di Dispatch Skadron Udara 15 Lanud Iswahjudi mengatakan bahwa Skadik 101 masuk dalam jajaran Wingdik Terbang 1 yang bermarkas di Lanudadisoetjipto, Yogyakarta, mengemban tugas mendidik/melatih para siswa Sekbang mampu terbang solo (mandiri) tahap pemula, sebagai bekal menempuh tahap berikutnya yaitu terbang dasar menggunakan pesawat T-34 Charlie di Skadik 102.

Lebih lanjut Perwira lulusan AAU tahun 1992 dan Sekbang Angkatan 48 ini mengatakan bahwa NJD/NJS merupakan fase-fase akhir bina terbang latih dasar Sekolah Penerbang dengan pesawat AS-202/Bravo Skadik 101 Lanud Adisoetjipto.

Sebelum terbang NJD/NJS para siswa penerbang ini harus menempuh program persiapan di darat, manuver dasar, pattern, instrument, aero, formasi dan round robin. NJS itu sendiri merupakan program pembelajaran diluar aerodrome/pangkalan udara basis, ujarnya.

(Dispenau)

KRI Frans Kaisepo Akan Diresmikan di Biak

KRI Frans Kaisepo merapat di Jakarta. (Foto: ANTARA)

3 Mei 2009, Biak -- Kapal Perang KRI Frans Kaisepo 368 yang baru dimiliki TNI Angkatan Laut dijadwalkan akan diresmikan Panglima TNI Jenderal TNI Joko Santoso di Kabupaten Biak Numfor,Papua dalam waktu dekat.

Komandan Pangkalan TNI AL Biak, Kolonel Laut (P) Bambang Wahyudi di Biak, Rabu, mengatakan, sesuai informasi diterima jadwal peresmian KRI Frans Kaisepo diperkirakan minggu ketiga Juni 2009.

"Untuk lokasi penerimaan dan penyambutan kedatangan KRI Frans Kaisepo dilakukan di Pelabuhan Laut Biak,"ungkap Kolonel Bambang menanggapi rencana kedatangan KRI Frans Kaisepo.

Ia menjelaskan, kapal perang baru KRI Frans Kaisepo 368 merupakan jenis Korvet Sigma memiliki dimensi berat 1692 ton, panjang 90,71 meter, dan lebar 13,02 meter.

Kelebihan lain dimiliki KRI Frans Kaisepo 368, menurut Kolonel Bambang, mempunyai kecepatan jelajah 28 knot serta dilengkapi dengan misil penangkis serangan udara 2 kali Quad MBDA Mistral TETRAL, Anti surface missile 4 kali MBDA Exocet MM40 Block II dan senjata oto melara kaliber 76mm.

KRI Frans Kaisepo adalah kapal keempat atau yang terakhir dipesan Indonesia dari Schelde Naval Shipbuilding, Belanda. Tiga kapal sebelumnya dengan jenis yang sama, yaitu KRI Diponegoro 365, KRI Hasanuddin 366, dan KRI Iskandar Muda 367.

Menyinggung home base KRI Frans Kaisepo 368, menurut Bambang, karena kapal ini milik bangsa Indonesia maka kehadirannya akan memperkuat armada TNI AL.

"Rencananya kehadiran KRI Frans Kaisepo akan menjaga keamanan laut di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, khususnya di perairan timur Indonesia,"ujar Komandan TNI AL Biak Bambang.

Frans Kaisepo adalah salah satu Pahlawan Nasional Indonesia asal Kabupaten Biak Numfor yang namanya diabadikan di kapal perang TNI AL sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan atas jasa perjuangannya dalam menjaga keutuhan NKRI.

(ANTARA News)

Kodal Latihan Elang Gesit 2009

Deputi Olah Yudha/Katim Pengendali, Mayor Pnb Djoko Hadi tengah memimpin koordinasi gladi posko di Posko Elang Gesit 2009, bertempat di Markas Wing 3 Lanud Iswahjudi, Selasa (2/6). (Foto : Pentak Lanud Iswahjudi)

3 Mei 2009, Magetan -- Dalam rangka melatih koordinasi, kerja sama dan keterpaduan pola pelaksanaan operasi udara diantara unsur dalam jajaran Lanud Iswahjudi serta melatih mekanisme prosedur hubungan Komandan dan staf dalam pelaksanaan operasi udara, Lanud Iswahjudi melaksanakan Latihan Elang Gesit 2009 yang pembukaannya dipimpin langsung oleh Komandan Lanud Iswahjudi Marsekal Pertama TNI Bambang Samoedro, S.Sos, kemarin (1/6) di Main Appron Lanud Iswahjudi. Upacara pembukaan latihan tersebut ditandai dengan dentuman TNT seiring dengan Komandan Lanud Iswahjudi menyatakan dibukannya latihan Elang Gesit 2009.

Latihan yang mengambil tema ”Pangkalan TNI AU Iswahjudi siap melaksanakan operasi udara dengan mengoptimalkan kekuatan udara jajarannya di wilayah udara NKRI dalam rangka mendukung tugas TNI Angkatan Udara” tersebut, bertujuan untuk menguji dan meningkatkan kemampuan serta kesiapan segenap unsur dijajaran Lanud Iswahjudi dalam melaksanakan tugas operasi udara, pengamanan dan pertahahan pangkalan, serta penanggulangan pesawat dalam keadaan darurat.

Sedangkan sasaran latihan yang hendak dicapai selain untuk memantapkan kesiapan operasi, prosedur taktik, teknik serta Komando dan Pengendalian Satuan Udara, juga untuk mengembangkan cara-cara menghadapi berbagai kontijensi yang mungkin dihadapi serta menyempurnakan SOP Lanud Iswahjudi.


Anggota TNI AU di Lanud Iswahjudi Magetan, Jatim memasang bom di sayap pesawat tempur F-16 Fighting Falcon, Selasa (2/6). Pesawat tersebut digunakan untuk latihan operasi udara bersandi "ELANG GESIT 2009" yang disimulasikan untuk menangkal serangan tentara asing terhadap pos-pos militer di Bali dan Ponorogo. (Foto: ANTARA/Fikri Ali/ss/mes/09)

Sementara itu, operasi latihan tersebut dimaksudkan untuk mengembangkan berbagai kemmapuan yang meliputi beberapa bidang diantaranya Bidang Komando dan Staf yang merupakan mekanisme hubungan Komando dan Staf.Untuk Bidang Dukungan Administrasi yaitu terlaksananya kemampuan perencaan penyelenggaraan dukungan administrasi dan logistik. Sedangkan Bidang Komlek adalah kemampuan merencanakan jaring komlek dan Kodal Operasi dengan sarana komlek yang tersedia.

(Dispenau)

Skadron Elang Khatulistiwa Siap Terbang ke Ambalat


3 Mei 2009, Pontianak -- Komandan Pangkalan Udara (Lanud) Supadio Pontianak, Kolonel (Pnb) Yadi Indrayadi mengatakan, skadron tempur Elang Khatulistiwa siap membantu menjaga wilayah RI di kawasan Ambalat, Kalimantan Timur.

"Sampai sekarang permintaan secara resmi, belum ada. Hanya sewaktu-waktu kalau diminta, skadron akan siap terbang ke Ambalat," kata Yadi Indrayadi saat dihubungi, Rabu.

Menurut dia, waktu tempuh dari Supadio ke Ambalat sekitar satu jam dua puluh menit. Kekuatan Skadron Elang Khatulistiwa ditunjang oleh pesawat tempur Hawk jenis 100/200.

Ia menambahkan, meski situasi di Ambalat cukup panas, namun secara umum masih dalam suasana damai. "Presiden juga belum menyatakan darurat militer, masih dalam damai," kata Yadi Indrayadi.

Komandan Korem 121/Alambhana Wanawai, Kolonel (Inf) Nukman Kosadi mengingatkan seluruh komponen untuk waspada terkait sikap Malaysia yang mencoba memprovokasi Indonesia di perairan Ambalat.

Awal pekan lalu, kapal perang TNI AL KRI Untung Surapati-872 mengusir kapal perang Tentara Laut Diraja Malaysia (TLDM), KD Yu-3508 yang mencoba memasuki wilayah kedaulatan Republik Indonesia di perairan Blok Ambalat.

Sehari sebelumnya, KRI Hasanudin-366 juga mengusir KD Baung-3509 dan heli Malaysian Maritime Enforcement Agency serta pesawat Beechraft yang juga mencoba memasuki wilayah Blok Ambalat.

Berdasarkan data TNI AL, pelanggaran wilayah oleh unsur laut dan udara TLDM maupun Police Marine Malaysia di Perairan Kalimantan Timur, khususnya di Perairan Ambalat dan sekitarnya, periode Januari sampai April 2009, tercatat sembilan kali

(ANTARA News)

Presiden: Soal Ambalat Tidak Ada Kompromi

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (kanan) berbincang dengan Wapres Jusuf Kalla (kedua kanan) seusai mendarat di Bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta, Selasa (2/6). Kepala Negara kembali ke Tanah Air setelah mengikuti KTT ASEAN -ROK di Korea Selatan. (Foto: ANTARA/Widodo S. Jusuf/mes/09)

2 Mei 2009, Pulau Jeju, Korsel -- Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menegaskan kembali bahwa soal batas negara antara Indonesia - Malaysia di perairan pulau Ambalat sudah tidak bisa dikompromikan karena wilayah itu jelas milik Indonesia.

"Bahwa apa yang diklaim oleh Malaysia tidak bisa kita terima karena Indonesia yakin itu wilayah Indonesia. Sejengkal daratan ataupun wilayah laut kalau itu wilayah Indonesia harus kita pertahankan tidak ada kompromi dan toleransi karena itu harga mati," kata Presiden sebelum meninggalkan Jeju Korsel, Selasa.

Namun untuk menegakkan kedaulatan itu, lanjut Presiden, tidak harus mengobarkan peperangan apalagi Indonesia dan Malaysia adalah anggota ASEAN yang hubungannya diatur dalam Piagam ASEAN.

"Ada diplomasi, ada penyelesaian secara damai, jadi jangan hanya beretorika supaya dianggap pemimpin yang berani terus mengobarkan perang di mana-mana," katanya.

Presiden menjelaskan, persoalan batas wilayah di Ambalat terus dibicarakan antara kedua negara dan pemerintah Indonesia sudah mendorong agar perundingan mengenai batas wilayah di sekitar Ambalat segera dilanjutkan secara intensif .

"Jadi saya tegaskan sekali lagi kapada seluruh rakyat bahwa posisi kita jelas yang diklaim itu adalah wilayah Indonesia dan kita tidak bisa menerima dan wilayah itu kita jaga. Kita lanjutkan negosiasi," katanya.

Dijelaskan Presiden, sejak masalah batas wilayah Ambalat ini muncul dua tahun lalu dirinya sudah menginstruksikan agar TNI terus melakukan operasi pengamanan wilayah ada atau tidak ada pelanggaran oleh kapal-kapal perang Malaysia.

"Sekarang ada enam kapal perang dan tiga pesawat udara dari TNI AL. Barangkali pihak Malaysia mengklaim tempat itu bisa saja dia patroli tapi ketika memasuki wilayah kita, jelas kita halau dan itu yang kita lakukan kemarin," katanya.

Kuda lumping dipajang di Bandara Sekudai, Johor Baharu, Malaysia. Kuda lumping milik siapa yach?. (Foto: admin)

Presiden mengharapkan persoalan yang sudah dalam tahapan perundingan tingkat menteri ini seharusnya tidak diganggu dengan adanya pelanggaran batas oleh kapal-kapal perang Malaysia.

"Ketika memasuki wilayah kedaulatan sudah tidak ada kompromi. Kita dengan Malaysia dan Singapura jika ada masalah mengenai lagu, batik, reog itu bisa selesaikan dengan pendekatan yang tepat, tetapi kalau kedaulatan tidak bisa. Meski saudara dekat, tetangga baik, kedaulatan adalah kedaulatan karena itu adalah eksistensi negara," kata presiden tegas.

(ANTARA News)