Jumat, 29 Mei 2009

Sail Bunaken 2009 di Teluk Manado

HMS Echo. (Foto:royalnavy)

30 Mei 2009 -- TNI AL akan menyelenggarakan perhelatan kelautan bertaraf internasional SAIL BUNAKEN 2009 pada tanggal 11 hingga 19 Agustus 2009. Perhelatan ini akan menampilkan parade kapal perang internasional (IFR/International Fleet Review) dan selam masal.

IFR merupakan kegiatan puncak Sail Bunaken 2009 berupa parade kapal perang (warship dan tallship) direncanakan akan diinspeksi oleh Presiden RI di teluk Menado menjelang matahari terbenam pada 19 Agustus 2009. Saat diinspeksi oleh Presiden seluruh kapal perang dalam posisi lego jangkar, sedangkan kapal kepresidenan berlayar menginspeksi kapal satu persatu. Pada saat sailing dan flying pass kapal kepresidenan posisi statis. Seluruh kapal perang akan memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk melihat dari dekat kapal perang (open ship) selama berlangsungnya Sail Bunaken.

30 negara anggota WNPS (Western Pacific Naval Symposium) dan 14 negara lainnya diundang mengikuti IFR. Sebanyak 16 negara telah menyatakan akan hadir, 11 negara akan mengirimkan kapal perangnya. Amerika kemungkinan 2 kapal (diantaranya kapal induk helly), Australia 2 kapal (HMAS New Castle dan Leeuwing), Jepang 3 kapal (destroyer), Singapura 1 kapal, Thailand 3 kapal (frigate), Inggris 1 kapal (HMS Echo), India 1 kapal (destroyer), Brasil 1 kapal (LST), Perancis 1 kapal, Malaysia 2 kapal (KD Kedah dan KLD Tunas Samudera), Belanda, Chili, Peru, Suriah, dan Turki hanya mengirimkan delegasi saja.

KD Kedah. (Foto: navy.mil.my)

HMAS Newcastle. (Foto: newcastle.nsw.gov.au)

HMAS Leeuwing. (Foto: navy.gov.au)

KLD Tunas Jaya. (Foto: navy.mil.my)

14 negara masih ditunggu konfirmasinya yaitu Bangladesh, Brunai, Filiphina, Italia, Kamboja, Korea Selatan, Pakistan, Papua Nugini, Rusia, Selandia Baru, Vietnam, Myanmar, Arab Saudi, Iran, dan Mesir. 7000 orang peserta asing diperkirakan akan hadir.

Indonesia akan melibatkan 10 kapal perang, 1 flight Sukhoi, 1 flight F-16, 1 skuadron Cassa, 1 skuadron Nomad. Sampai saat ini 35 kapal perang, 2 flight TNI AU dan 2 skuadron pesawat udara TNI AU tercatat sebagai peserta IFR. Pada seluruh kapal perang negara sahabat ditempatkan perwira TNI AL sebagai pemandu di kapal.

(TNI AL/info-terkumpul.blogspot)

Perusahan Patungan Rusia - Belarusia Ekspor Pechora-2M

Pechora-2M diluncurkan. (Foto: ausairpower.net)

29 Mei 2009 -- Perusahaan patungan Rusia – Belarusia akan mengirimkan sistem pertahanan udara Pechora-2M ke lima negara dalam waktu dekat. Pechora-2M merupakan versi up-grade Pechora (SA-3 Goa) sistem misil permukaan ke udara pada ketinggian rendah. Sistem dimodernisasi dengan penambahan fitur jarak lebih jauh (hingga 27 Km), menaikkan probabilitas membunuh, lebih tahan jamming, serta kemampuan mengenali beberapa sasaran termasuk misil jelajah.

“Kami akan mengirimkan sistem pertahanan udara Pechora-2M ke tiga negara eks-Uni Sovyet dan dua (lagi) negara asing segera,” ujar Vyacheslav Karatayev, tanpa menyebutkan secara spesifik nama pelanggannya. Karatayev menambahkan perusahaan telah mengadakan pembicaraan dengan sepuluh negara lainnya guna penjualan sistem misil Pechora.


“Sistem ini sangat populer diseluruh dunia. Akan tetapi, kami masih belum mampu menaikkan kapasitas produksi hingga 15 – 17 sistem pertahun, seperti saat era Sovyet,” ujar Karatayev.

Sejumlah sumber media Rusia baru-baru ini melaporkan portofolio order ekspor 2009 – 2011 untuk Pechora-2M dan Pechora-2A total 200 unit, termasuk 70 unit untuk Mesir. Perusahaan patungan sistem pertahanan dibentuk 1996 dibawah kesepakatan antar pemerintah Rusia – Belarusia. Perusahaan mempunyai 38 anak perusahaan di dua negara tersebut dan fokus pada produksi, ekspor, dan pelayanan purna jual sistem pertahanan udara Pechora-2M.

RIA Novosti/@info-terkumpul

Malaysia Sering Langgar Wilayah

Kapal perang Indonesia sedang patroli disekitar perairan Ambalat. (Foto: tarakankota)

28 Mei 2009, Jakarta -- Pelanggaran wilayah Ambalat, Kaltim oleh kapal Malaysia harus disikapi proporsional. Kasus masuknya kapal negeri jiran itu ke perairan Indonesia di Blok Ambalat karena salah paham.

Demikian dikatakan Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso usai menghadiri seminar Koentjaraningrat Memorial Lecture di gedung Dephan, kemarin (28/05).

"Ada dispute area, perasaan dia patroli itu tidak melanggar tapi sebenarnya melanggar," ujarnya.

Menurutnya, Malaysia, sebenarnya sudah paham prosedur bersama yang disepakati antar dua negara. "Saya telah bertemu dengan Panglima Tentara Diraja Malaysia beberapa bulan lalu. Kita menyusun prosedur operasi laut, dan keamanan maritim," kata jenderal asal Solo, Jateng itu.

Dalam kerja sama itu sudah diatur semua prosedurnya apabila terjadi suatu pelanggaran di perbatasan. “Kita sudah atur semua, bagaimana prosedurnya, bagaimana komunikasi supaya bila terjadi pelanggaran bisa diselesaikan dengan baik," kata mantan KSAD itu.

Secara teknis, bila ada yang melanggar, pertama diberi peringatan bahwa kapal yang bersangkutan telah masuk wilayah perairan Indonesia atau Malaysia. Setelah itu disebutkan titik koordinat yang dilanggar. "Memang masih ada yang namanya dispute area itu, yakni wilayah terluar suatu perairan suatu negara," tambahnya.

Gesekan perbatasan antardua negara ini sudah terjadi sejak 1967. Pada 27 Oktober 1969, Indonesia-Malaysia sampai meneken Perjanjian Tapal Batas Kontinental Indonesia - Malaysia. Dalam perjanjian itu disebutkan, kedua negara melakukan ratifikasi pada 7 November 1969.

Anehnya, di tahun yang sama Malaysia justru menerbitkan peta baru yang memasukan Pulau Sipadan, Ligitan dan Batu Puteh. Indonesia dan Singapura, tak mengakui peta baru Malaysia itu.

Kemudian pada 17 Maret 1970 kembali ditandatangani persetujuan Tapal Batas Laut Indonesia dan Malaysia. Sembilan tahun berselang Malaysia kembali menerbitkan peta baru mengenai tapal batas. Kali ini Malaysia memasukan blok maritim Ambalat ke dalam wilayahnya. Indonesia protes keras.

KD Sri Melaka

Gesekan pun terus terjadi, pada 21 Februari 2005 di Takat Unarang, 17 pekerja Indonesia ditangkap awak kapal perang Malaysia KD Sri Melaka. Terjadilah ketegangan yang melibatkan kapal perang Malaysia -KD Sri Johor, KD Buang dan Kota Baharu- dan kapal perang Indonesia, KRI Wiratno, KRI Tongkol, KRI Tedong Naga, KRI KS Tubun, KRI Nuku dan KRI Singa.

Ketegangan mulai masuk wilayah fisik. Pada April 2005, Kapal Republik Indonesia Tedong Naga menyerempet Kapal Diraja Rencong tiga kali. Pada 24 Februari 2007, Indonesia mencatat Malaysia melakukan 35 kali pelanggaran perbatasan. Contohnya, kapal perang Malaysia KD Budiman yang masuk ke wilayah perairan Indonesia sejauh satu mil laut dengan kecepatan 10 knot. Kemudian kapal perang KD Sri Perlis masuk sejauh dua mil laut dengan kecepatan 10 knot.

Malaysia mulai menempatkan kapal perang Rencong di perairan Ambalat sejak pada 8 April 2005. Setelah itu giliran TNI-AU siaga di Pangkalan Udara Balikpapan, Kalimantan Timur dan Lanud Hasanuddin, Makassar.

Tetapi tetap saja kapal Malaysia berupaya masuk. Misalnya, pada 25 Fabruari 2007, KD Sri Perli memasuki wilayah RI sejauh 3.000 yard yang akhirnya diusir keluar oleh KRI Untung Suropati. Bahkan di hari yang sama, pesawat udara patroli maritim Malaysia jenis Beech Craft B 200 T Superking melintas memasuki wilayah RI sejauh 3.000 yard.

Pesawat tempur Indonesia baru bisa menjangkau daerah ini setelah terbang selama 15 sampai 30 menit. Sedangkan Malaysia sudah memiliki pangkalan udara di Tawao, Malaysia, dan menempatkan pesawat tempur yang mampu menjangkau Ambalat dalam hitungan detik.

Insiden terakhir terjadi pada awal pekan ini, KRI Untung Suropati mengusir kapal patroli Malaysia KD YU- 3508 karena melanggar batas laut.

PERTAHANAN SOSIAL

Di tempat yang sama, Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono mengatakan, selain pertahanan dalam bentuk gelar militer, Indonesia juga mengandalkan pertahanan sosial. "Kita mengembangkan kebersamaan antarsuku, kita juga menggandeng ahli antropologi," kata Juwono.

Faktor sosial budaya tersebut juga dapat menjadi faktor penyebab keberhasilan pembangunan ekonomi masyarakat khususnya yang ada di wilayah perbatasan.

Dirjen Pothan Prof Dr Budi Susilo Soepandji DEA meminta masyarakat yang ada di wilayah perbatasan hendaknya tidak melihat potensi yang ada di luar wilayah NKRI, melainkan mencari cara bagaimana mengembangkan dan memberdayakan potensi yang ada di dalam Indonesia.

“Kita jangan melihat semata-mata yang ada di luar dari teritorial kita tetapi melihat potensi pertahanan yang mempunyai koridor memperdayakan masyarakat di wilayah NKRI," kata adik kandung jaksa agung Hendarman Supandji itu.

(Kaltim Post)

AWACS Beriev A-50 Mainstay Memperkuat AU India

AWACS Beriev A-50 Mainstay. (Foto: Beriev)

29 Mei 2009 -- Angkatan Udara India menerima pesawat pertama AWACS Beriev A-50 Mainstay buatan Rusia, Kamis, (28/5). A-50 dibuat berbasiskan pesawat angkut militer Il-76 MD.

AU India memesan tiga varian A-50EI dilengkapi sistem radar Phalcon buatan Israel pada 2001. Pesawat pertama dijadwalkan diterima di tahun 2007 – 2008, tetapi tertunda.

“Hari ini kami menjadi salah satu dari sejumlah negara yang mampu memiliki pesawat jenis ini (AWACS),” ujar KASAU India Marsekal Fali Homi Major saat peresmian mulai bertugasnya di jajaran AU India.

Menurut sebuah sumber, pesawat kedua diharapkan tiba di India awal 2010, pesawat ketiga akhir tahun depan. Pesawat akan ditempatkan di Agra bergabung dengan Skuadron 50.

Beriev A-50EI Mainstay sedang mengisi bahan bakar di udara. (Foto: Beriev)

Banyak aspek, A-50 sebanding dengan E-3 Sentry milik AU Amerika Serikat. Dilengkapi sistem pengisian bahan bakar di udara dan peralatan perang elektronik, serta dapat melacak target hingga 400 km.

Program kerjasama teknis Rusia – India hingga 2010 melingkupi 200 proyek senilai USD 18 Milyar. Akan tetapi, kerjasama ini dibayang-bayangi oleh perselisihan pada sejumlah masalah; keterlambatan pengiriman, pasokan suku cadang, buruknya dukungan penjualan, mahalnya biaya perawatan dan isu-isu terkait transfer teknologi.

Sebagai contoh, India mengeliminasi Rusia dari tender pengadaan 6 pesawat tanker udara untuk AU India disebabkan buruknya pelayanan purna jual, terder dimenangkan Airbus A-330 MRTT. India baru saja membeli 8 pesawat Boeing P-81 LRMR (Long Range Maritime Reconnaissance) dari Amerika Serikat, penandatanganan kerjasama dengan Brazil guna mengintegrasikan sistem AWACS buatan India pada 3 pesawat buatan Brazil Embraer-145 yang akan bertugas dijajaran AU India.

RIA Novosti/@info-terkumpul

Kamis, 28 Mei 2009

Ambalat Memanas TNI AU Terbangkan B-737 Surveiller

Awak pesawat Boeing A-7303 sedang mengoperasikan kamera wes camp dari dalam pesawat pada Operasi Pengamanan Kawasan Ambalat, dalam rangka mendeteksi ada/tidaknya target. Tampak dalam layar monitor kamera pesawat tertangkap sebuah kapal niaga sedang melintas di Kawasan Ambalat. (Foto : Penkoopsau II)

28 Mei 2009, Makassar -- Setelah lebih kurang satu tahun relatif tenang, kini kawasan perairan Ambalat KalimantanTimur kembali mulai "memanas". Aura ketegangan mulai nampak, ketika dalam dua hari dalam pekan ini (24 - 25 Mei 2009), di wilayah NKRI itu terjadi dua kali insiden pengusiran kapal-kapal perang Malaysia oleh Kapal Republik Indonesia (KRI) TNI AL maupun terdeteknya helikopter Malaysian Maritime Enforcement Agency dan pesawat Beechraft Malaysia yang memasuki wilayah NKRI hingga sejauh 40 mil laut.

Mencermati perkembangan tersebut, pihak TNI AU mengerahkan satu flight pesawat intai maritim jenis Boeing 737 untuk melaksanakan patroli dan pengamatan dari udara di kawasan yang kaya kandungan minyak itu, Kamis (28/5). Tepat pukul 08.40 wita pesawat Boeing 737 yang diterbangkan oleh Mayor Pnb Beny dan copilot Lettu Pnb Agus take off dari Lanud Sultan Hasanudin, Makasar menuju Ambalat area.Pesawat dengan tail number A-7303 yang berhome base di Skadron Udara 5 Lanud Sultan Hasanudin ini, melaksanakan misi maritime patrol dan pengamatan terhadap kapal-kapal yang berlayar di perairan Ambalat dan sekitarnya.

Sesaat di atas kawasan Ambalat, pesawat yang dilengkapi dengan peralatan camera Wes Cam yang mampu mendeteksi kapal-kapal di atas permukaan itu pun beraksi. Dari ketinggian 10.000 feet, selama kurang lebih dua puluh lima menit, pesawat Boeing A-7303 terus melaksanakan pengamatan dan pemantauan di atas Ambalat area. Selama itu, tidak ditemukan target kapal yang mencurigakan, lebih-lebih kapal-kapal perang negara tetangga seperti yang terjadi dua tiga hari lalu. Dari pantauan kamera yang ada di pesawat Boeing 7303, hanya beberapa kapal niaga / peti kemas tampak sedang berlayar.

TNI AU sendiri, dalam hal ini Koopsau II secara rutin terus melaksanakan patroli dan pengamanan di kawasan Ambalat. Dalam kalender Koopsau II, pengamanan wilayah Ambalat merupakan operasi yang dilaksanakan sepanjang tahun. Pesawat yang dilibatkan dalam operasi Ambalat meliputi pesawat Boeing 737 dan Sukhoi Su-27/30 MK. Kedua jenis pesawat ini selalu stand by on call. Sementara koordinasi dengan pihak TNI AL, dalam hal ini Koarmatim juga terus dilakukan guna mendapatkan data-data maupun informasi yang up to date seputar keamanan wilayah Ambalat. Demikian, Kapen Koopsau II Mayor Sonaji Wibowo, menginformasikan.

(Pen Koopsau II)

Krisis Ambalat Selesai Lewat Prosedur Bersama

Prajurit TNI bersiaga di Ambalat. (Foto: tarakankota)

29 Mei 2009, Jakarta -- Mabes TNI minta krisis di perairan Ambalat tidak terlalu diperuncing. Militer RI-Malaysia telah menyusun prosedur bersama pengamanan perbatasan laut kedua negara, sejak awal tahun ini. "Termasuk di Ambalat," kata Panglima TNI Jenderal, Djoko Santoso di kantor Departemen Pertahanan, Jakarta, Kamis (28/5).

Jika terjadi pelanggaran, masing-masing pihak menjalankan tugasnya sesuai prosedur yang telah disepakati. Dimulai dari komunikasi awal sebagai peringatan, hingga tahap pengusiran kapal-kapal yang dianggap melanggar wilayah. "Sehingga masalah bisa selesai dengan baik," katanya.

Konflik di Ambalat kembali meningkat, sejak akhir pekan lalu. Hampir setiap hari pesawat dan kapal perang Malaysia melanggar wilayah dengan masuk ke zona yang diyakini kaya minyak itu. Berdasarkan data TNI AL, pelanggaran laut dan udara yang dilakukan militer maupun polisi Malaysia periode Januari sampai April 2009, tercatat sembilan kali.

Djoko mengakui adanya pelanggaran itu. Ini terjadi karena kedua pihak punya peta yang berbeda dan saling klaim wilayah yang diduga kaya minyak itu. Djoko meminta semua pihak menunggu perundingan yang terus dilakukan Departemen Luar Negeri (Deplu).

Sambil menunggu perundingan, TNI tetap melakukan pengamanan di Ambalat sesuai standar operasional. "Tidak ada penambahan kapal," kata lulusan Akademi Militer tahun 1975 itu. TNI hanya mengerahkan satu pesawat Boeing-737 intai maritim untuk melaksanakan patroli dan pengamatan udara di perairan Ambalat dan sekitarnya, kemarin.

"Hasilnya tidak ditemukan kapal negara tetangga," kata Kepala Penerangan Komando Operasi TNI AU (Koopsau) II Mayor Sonaji Wibowo. Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) Muladi meminta militer terus pegang aturan pelibatan yang ada. Posisi Indonesia di Ambalat lebih kuat karena lebih dahulu melakukan okupasi aktif. Kondisi ini berbeda dengan kasus lepasnya pulau Sipadan dan Ligitan.

(Jurnal Nasional)

AL Australia Jajaki Kerja Sama Dengan Koarmatim


27 Mei 2009, Surabaya -- Armada Angkatan Laut Australia sedang menjajaki kerja sama di bidang pengamanan laut dengan Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim).

Hal itu ditunjukkan dengan kunjungan Panglima Armada Utara Australia (Commander Northern Command), Commodore David Dwyther, ke Koarmatim yang bermarkas di Ujung, Surabaya, Rabu.

Rombongan pejabat militer angkatan laut Negeri Kanguru tersebut, diterima Panglima Koarmatim, Laksamana Muda TNI Lili Supramono dengan didampingi Kepala Staf Koarmatim, Laksamana Pertama TNI Slamet Yulistiono, dan para Asintel Koarmatim.

Kedua belah pihak mengadakan pertemuan secara tertutup di Gedung Gajah Mada, Pelabuhan Ujung, selama beberapa jam.

"Agenda utama yang dibahas dalam kunjungan singkat itu adalah masalah kerja sama dan saling menjaga hubungan baik antarangkatan laut kedua negara," kata Kepala Dinas Penerangan Koarmatim, Letkol Laut Drs. Toni Syaiful.

Setelah melakukan pertemuan secara tertutup, Pangarmatim dan Panglima Armada Angkatan Laut Utara Australia, berfoto bersama di depan Monumen Jalesveva Jayamahe (Monjaya).

KRI Hiu. (Foto: Karbol1978)

Pengambilan gambar untuk dokumentasi itu dilanjutkan dengan acara saling menukar cendera mata kedua pucuk pimpinan angkatan laut itu.

Dalam kesempatan tersebut, Commodore David Dwyther sempat mengamati Kapal Perang RI (KRI) Hiu-804 yang bersandar di Dermaga Ujung.

Di kapal perang itu, Panglima Armada Utara Australia itu menerima penjelasan dari Komandan KRI Hiu-804, Mayor laut (P) I.G.P. Alit Jaya.

(ANTARA JATIM)