Senin, 02 Februari 2009

TNI Usut Patok Perbatasan yang Hilang

2 Februari 2009, Jakarta -- TNI AD dan Angkatan Darat Malaysia akan segera berkoordinasi dan mengusut puluhan patok yang hilang di sepanjang perbatasan RI-Malaysia. Patok disinyalir hilang akibat ulah pengusaha kelapa sawit Malaysia.

"Dinamika di lapangan memang seperti itu. Akan dikembalikan ke tempat semula," kata Kepala Staf TNI AD (KSAD) Jenderal Agustadi Sasongko Purnomo usai Rapat Pimpinan TNI AD 2009 di Jakarta, Jumat (30/1).

Sebelumnya, Komandan Korem Alambhana Wanawwai Kolonel Nukman Kasodi mengungkapkan, sebanyak 50 buah patok perbatasan hilang karena ulah pengusaha kelapa sawit Malaysia. Para pengusaha membangun jalan di tapal batas di Kalimantan Barat (Kalbar). Semuanya tersebar di lima kabupaten yang berbatasan langsung dengan Sarawak, Malaysia. Antara lain berada di Kabupaten Kapuas Hulu, Sanggau, Bengkayang, dan Sambas.

"Temuan itu hasil pantauan langsung ke perbatasan pertengahan bulan ini," kata Nukman.

Agustadi menjelaskan, semua permasalahan perbatasan antara RI-Malaysia yang mencapai 2.004 kilometer diselesaikan dalam forum komite perbatasan bersama (General Border Committee/GBC) kedua negara. (jurnalnasional.com)

Lima Negara Berminat Bangun Kapal Perusak

2 Februari 2009, Jakarta -- Tujuh perusahaan dari lima negara berminat membangun kapal perusak kawal rudal untuk operasional TNI AL. Kepala Staf TNI AL Laksamana Tedjo Edhy Purdijatno mengatakan, dua perusahaan Jerman dan Rusia, serta galangan kapal asal Itali, Belanda, dan Korea sudah menyatakan kesediaannya menggandeng PT PAL dalam pembangunan kapal tersebut.

"Kami masih menimbang mana yang terbaik," katanya kepada Jurnal Nasional di Jakarta, pekan lalu.

Tedjo menegaskan, selain harga, transfer teknologi menjadi faktor penentu. Pembangunan di PT PAL, Surabaya tidak bisa ditawar-tawar.

"Kalau tidak ada alih teknologi kapan Indonesia mandiri," katanya.

Dia menjelaskan, saat ini tim dari Markas Besar TNI AL intensif melakukan kajian spesifikasi teknis dan persyaratan operasional yang dibutuhkan. Setelah selesai, kajian diserahkan ke Markas Besar TNI dan Departemen Pertahanan.

"Tahun ini ditargetkan kontrak pembuatannya selesai," katanya. Alasannya, pengadaan senjata strategis itu masuk dalam rencana pembangunan TNI AL 2004-2009.

Meski ada pengaruh krisis keuangan yang melanda dunia, Tedjo tetap optimistis target tersebut dapat terealisasi. "Asalkan memiliki tekad bersama pasti bisa," kata Tedjo.

Saat ini TNI AL punya 13 kapal perusak kawal rudal. Enam kapal fregat kelas Van Speijk dengan rudal Harpoonnya, yaitu KRI Ahmad Yani 351 eks HNMLS Tjrek Hiddes F804 buatan tahun 1967, Slamet Riadi 352/Van Speijk F802, Yos Sudarso 353/Van Galen F802, Oswald Siahaan 354/Van Ness F805, Abdul Halim Perdanakusuma 355/Eversten F815, Karel Satsuitubun 356/Isaac Sweers F814.

KRI Ahmad Yani 351 eks HNMLS Tjrek Hiddes F804

Tiga kapal kelas Fatahillah buatan Belanda dengan Exocett MM-38 yaitu KRI Fatahillah 361, Malahayati 362 dan Nala 363. Satu kapal kelas Ki Hajar Dewantara 364 buatan eks Yugoslavia dilengkapi dengan Exocett MM-38 juga, serta tiga korvet Sigma yang gress datang dari Belanda.

KRI Fatahillah 361

Indonesia memesan empat korvet Sigma dengan nilai total nilai 700 juta Euro (sekitar Rp8 triliun). KRI Diponegoro, KRI Sultan Hasanuddin, dan KRI Sultan Iskandar Muda telah memperkuat TNI AL. Satu kapal terakhir KRI Frans Kaisiepo diperkirakan tiba April mendatang.

Kepala Dinas Penerangan TNI AL Laksma Iskandar Sitompul menjelaskan, nantinya kapal perusak tersebut berjenis fregat sehingga ukurannya lebih besar dan persenjataannya lebih lengkap dibanding dengan korvet Sigma.

"Otomatis harganya lebih mahal," katanya. Meski hanya memesan satu kapal, Iskandar optimistis kekurangan kapal berkategori tempur dapat terus ditingkatkan di masa mendatang.

Dia mengakui, matra laut sadar penuh anggaran pertahanan ideal tidak akan dicapai dalam waktu dekat. Pihaknya hanya meminta pembangunan kekuatan minimal untuk mengamankan perairan Indonesia yang sedemikian luas.

"Kapal yang terbatas, disiasati dengan data intelijen yang kuat dan akurat," kata lulusan Akademi Angkatan Laut tahun 1980 itu. (jurnalnasional.com/info-terkumpul.blogspot.com)

Letkol Wahyu Danskadik 102 Lanud Adisutjipto

Komandan Lanud Adisutjipto, Marsma TNI R Hari Muljono memeriksa barisan pasukan peserta upacara Sertijab Danskadik 104.

2 Februari 2009, Lanud Adisutjipto -- Bertempat di Lapangan Apel Skadron Pendidikan (Skadik) 104 Wingdik Terbang Lanud Adisutjipto, Letkol Pnb Erwan Andrian menyerahkan jabatan selaku Komandan Skadik 104 kepada penggantinya Letkol Pnb Wahyu Anggono dalam suatu upacara kemiliteran yang dipimpin langsung oleh Komandan Lanud Adisutjipto, Marsma TNI R Hari Muljono, (Selasa, 2/2). Letkol Pnb Erwan selanjutnya menduduki jabatan sebagai Kapuskodal Koopsau II Makasar, sedangkan Letkol Pnb Wahyu sebelumnya menduduki jabatan sebagai Kastand Evaldik Wingdik Terbang Lanud Adisutjipto. Upacara serah terima jabatan yang diikuti oleh seluruh anggota Skadik 104, Pomau, dan Paskhasau tersebut berjalan dengan tertib, aman dan lancar.

Komandan Lanud Adisutjipto, Marsma TNI R Hari Muljono dalam sambutannya mengatakan bahwa pergantian pejabat di lingkungan TNI AU bertujuan untuk mendayagunkan potensi sumberdaya manusia secara optimal, agar menghasilkan pelaksanaan tugas yang lebih baik lagi, sehingga tugas dan tanggung jawab lembaga dapat dilaksanakan secara maksimal. n personil.

Terkait dengan pelaksanaan tugas pokok Skadik 104, Marsma TNI R Hari Muljono menegaskan bahwa guna mewujudkan pelaksanaan tugas tersebut sangat diperlukan suasana kerja yang kondusif dan kerja sama yang harmonis dengan didukung loyalitas pengabdian yang tinggi serta tanggung jawab yang diwujudkan dalam pelaksanaan tugas sehari-hari.

Hadir pada upacara tersebut Komandan Wingdik Terbang, Kolonel Pnb Nurhadi dan Para Pejabat Lanud Adisutjipto, Pejabat AAU, serta Para Undangan.

tni-au.mil.id

Tiga Sukhoi Resmi Milik Indonesia

2 Februari 2009, Makassar -- Sebanyak tiga pesawat jet tempur Sukhoi seri SU-30MK2 resmi diserahkan Pemerintah Rusia ke Pemerintah Indonesia, untuk segera melengkapi empat Sukhoi seri SU-30MK dan SU-27SK yang telah dioperasikan TNI Angkatan Udara (AU) sejak 2003.

Dubes Rusia untuk Indonesia, Alexander Ivanov meninjau pesawat sukhoi saat penyerahan pesawat Sukhoi di Lanud Hasanuddin Makassar, Senin (2/2). (Foto:
ANTARA/Adnan/YU/ss/nz/09)

Penyerahan ditandai dengan penyerahan log book pesawat secara simbolis oleh Dubes Rusia untuk Indonesia Alexander Ivanov mewakili pemerintah Rusia dan FSUE "Rosoboronexport kepada Sekretaris Jenderal Departemen Pertahanan (Dephan) Letjen TNI Sjafrie Sjamsoeddin mewakili pemerintah Indonesia, di depan Gedung Galaktika Pangkalan Udara (Lanud) Sultan Hasanuddin, Makassar, Senin (2/2).

Sekjen Dephan RI, Letjen Sjafrie Syamsoedin berbincang dengan Dubes Rusia untuk RI, Alexander Ivanov. (Foto : Muhammad Nur Abdurrahman/detik.com)

Selanjutnya, tiga pesawat tersebut diserahkan Irjen TNI Mayjen TNI Lilik S Sumaryo yang kemudian menyerahkannya kepada Wakil Kepala Staf Angkatan Udara (Wa Kasau) Marsekal Madya TNI Wardjoko.

Dubes Rusia untuk Indonesia, Alexander Ivanov meninjau pesawat sukhoi saat penyerahan pesawat Sukhoi di Lanud Hasanuddin Makassar, Senin (2/2). (Foto: ANTARA/Adnan/YU/ss/nz/09)

Sebelum diserahkan, tiga pesawat jet tempur Sukhoi SU-30MK2 yang tiba secara bertahap pada 26 Desember 2008 dan 17 Januari 2009 itu, telah menjalani uji terbang oleh pilot Rusia di Lanud Sultan Hasanuddin.

Sekjen Dephankam, Letjen TNI Safri Syamsuddin (kiri) didampingi sejumlah pejabat Lanud Hasanuddin Makassar saat penyerahan pesawat Sukhoi di Lanud Hasanuddin Makassar, Senin (2/2). (Foto: ANTARA/Adnan/YU/ss/nz/09)

Dengan kehadiran tiga unit Sukhoi itu, kini TNI AU memiliki tujuh pesawat yang memiliki julukan "flanker" tersebut. Tiga unit lainnya, yakni jenis SU-27SKM akan tiba pertengahan 2009 dan 2010, demikian Antara.

Menteri Pertahanan (Menhan) Juwono Sudarsono dalam sambutannya yang dibacakan Sekjen Dephan Letjen TNI Sjafrie Sjamsoeddin mengatakan, kedatangan tiga pesawat Sukhoi ini dapat meningkatkan peran dan tugas TNI, khususnya TNI AU untuk mempertahankan dan menjaga kedaulatan negara kesatuan Republik Indonesia. (tribun-timur.com)

Russia Formally Hands Over 3 Multi-Role Fighters to Indonesia

(Photo: Detik.com)

February 2, 2009, Makassar -- Russia and Indonesia finalized on Monday the handover of three Russian-made Su-30MK2 Flanker multi-role fighters.

The official ceremony took place after the aircraft were delivered to Indonesia on December 26 and January 17, assembled and underwent test flights. Under the $300 million contract, signed in 2007, Russia is also due to supply three Su-27SKM fighters to Jakarta in 2009-2010.

Two Su-27SK and two Su-30MK planes are already in service with the Indonesian Air Force.

"We hope for further contacts in the defense sphere with Russia," a senior Indonesian Defense Ministry official said at the ceremony.

The aircraft will join Indonesia's 11th Squadron and will be based at the Sultan Hasanuddin airbase on Sulawesi. (RIA Novosti)

Sistem Pertahanan Udara Iran Terbaru


Tehran -- Sistem pertahanan udara buatan dalam negeri berhasil mengenai sasaran sejauh 55,000 feet (18 km), diumumkan oleh Menteri Pertahanan Iran Brigjen Mostafa Mohammad Najjar pada Fars News Agency (31/1) saat perayaan perkenalan sistem pertahanan udara 100mm.

Sistem pertahanan udara dengan teknologi canggih ini dapat menghadang setiap pesawat musuh, helikopter bahkan peluru kendali balistik pada ketinggian 55,000 feet (18 km).

Sistem radar pendeteksi maupun penghadang sasaran seluruhnya dibuat oleh ahli-ahli Iran sendiri.

Bagian yang terpenting dalam sistem ini kemampuan melacak sasaran dan secara otomatis menembaknya.

Selonsong peluru yang digunakan pada sistem ini dilengkapi dengan pemicu yang dapat meledak dan menghancurkan sasaran dari jarak dekat meskipun peluru tidak langsung mengenai sasaran.

Pemerintah Tehran mulai meluncurkan program pembuatan senjata pada periode tahun 1980 - 1988 akibat perang dengan Irak dan jawaban embargo senjata oleh Amerika Serikat. Saat ini Iran telah berhasil membuat pesawat tempur, kendaraan angkut personil, tank serta peluru kendali.

FNA/@info-terkumpul

RI-Singapura Sepakati Batas Laut Bagian Barat

2 Februari 2009, Jakarta -- Pemerintah Indonesia dan Singapura dijadwalkan untuk menandatangani kesepakatan mengenai perjanjian batas laut bagian barat yang terletak di bagian utara Pulau Nipah pada Febuari 2009.

"Kesepakatan ini resmi akan ditandatangani kedua negara, Indonesia dan Singapura pada bulan ini juga. Menlu (Hassan Wirajuda) akan mewakili pemerintah Indonesia," kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Kantor Kepresidenan Jakarta, Senin (2/2).

Presiden menjelaskan bahwa kesepakatan bersama mengenai batas laut teritorial bagian barat itu dicapai melalui perundingan yang sangat intens dalam tiga tahun terakhir. "Negosiasi masalah perbatasan baik darat maupun laut selalu tidak mudah tapi setelah dilakukan negosiasi yang sangat intens maka akhir tahun lalu telah dicapai kesepakatan," katanya.

Menurut Kepala Negara, penetapan batas laut teritorial itu mendorong pengembangan kerjasama ekonomi di kawasan, terutama Indonesia, Singapura dan Malaysia. "Kerjasama segitiga pertumbuhan, Sijohri, Singapura, Johor, Riau dan tentunya kerjasama yang lain. Apalagi kita telah tetapkan kawasan Batam, Bintan, Karimun sebagai free trade zone. Dengan lebih pastinya batas ini kita bisa mengembangkan lagi kegiatan-kegiatan ekonomi di kawasan itu," katanya.

Kemudian, lanjut Presiden, dari aspek keamanan dan geopolitik batas wilayah yang jelas juga meningkatkan kerja sama kawasan, termasuk kerja sama pengamanan Selat Malaka.

Batas laut teritorial Indonesia dan Singapura yang telah disepakati bersama adalah segmen atau bagian tengah pada 1973 atau 36 tahun lalu. Setelah itu belum ada perundingan lanjutan lagi, hingga perundingan pada Febuari 2005 di masa kabinet Indonesia Bersatu.

Sementara itu, Menlu Hassan Wirajuda mengatakan bahwa perjanjian batas laut teritorial bagian barat itu akan ditandatangani sekitar pertengahan Febuari. "Kita sesuaikan agenda dengan Menlu Singapura," katanya.

Hassan mengatakan, dengan disepakatinya batas laut teritorial bagian barat maka Indonesia dan Singapura masih menyisakan perundingan batas laut teritorial bagian timur yang terletak di atas Bintan (Indonesia) dan Bandara Changi (Singapura).

"Bagian timur memang kita minta untuk dibicarakan sekaligus namun Singapura meminta ditunda karena masih ada sengketa dengan Malaysia mengenai Batu Puteh," katanya.

Terkait dengan kesepakatan batas laut teritorial tersebut Menlu mengatakan bahwa pihak Indonesia berhasil meyakinkan Singapura untuk mengukur titik tengah dari pulau asli terluar (Soultan Soul) dan bukan dari garis reklamasi pantai.

"Perundingan didasarkan pada Konvensi Hukum Laut tahun 1982, dimana kedua negara menjadi negara pihak,...kita tidak sependapat dengan penggunaan pantai hasil reklamasi," ujarnya. (mediaindonesia.com)