Senin, 02 Februari 2009

Serah Terima Jabatan Komandan Resimen Artileri-2 Marinir

30 Januari 2009, Jakarta -- Serah Terima Jabatan Komandan Resimen Artileri–2 Marinir memiliki arti penting bagi Korps Marinir khususnya Pasmar–2. Hal ini dikarenakan Resimen Artileri merupakan salah satu kekuatan Pasmar–2 dalam mendinamisasikan tugas, fungsi dan perannya, baik sebagai kekuatan pasukan Pendarat Amfibi maupun sebagai salah satu komponen pembangunan bangsa.

Demikian dikatakan Komandan Pasmar 2 Brigadir Jenderal TNI (Mar) Ikin Sodikin pada Upacara Serah Terima Jabatan Komandan Resimen Artileri-2 Marinir dari Kolonel Marinir Eko Sudianto kepada Letkol Marinir I Wayan Ariwijaya di Kesatrian Marinir Cilandak, Jakarta Selatan, Selasa (27/1).

”Serah Terima Jabatan Komandan dilingkungan Korps Marinir, selain sangat berkaitan dengan dinamika proses pembinaan organisasi dan personel, juga merupakan pelaksanaan dari proses regenerasi guna mendapatkan pembaruan semangat dan penyegaran pikiran”, tegas Komandan.
Selain itu, juga bertujuan memberikan kesempatan dan peluang bagi perwira-perwira pilihan untuk mengembangkan kreatifitas dan kemampuan konsepsionalnya guna mewujudkan organisasi yang lebih mantap dan optimal.

Komandan juga mengatakan, Resimen Artileri sebagai salah satu kekuatan pasukan Pendarat Amfibi, Resimen Artileri mempunyai tugas pokok membina kemampuan dan menyiapkan unsur-unsur Artileri Marinir guna melaksanakan Operasi Pendaratan Amfibi, Operasi Pertahanan Pantai, Operasi Tempur dan Operasi-operasi TNI AL lainnya.

Mencermati makna yang terkandung dalam tugas pokok tersebut, dapat disimpulkan, peranan dan keberadaan Resimen Artileri demikian penting dan strategis untuk menghadapi masa depan yang syarat dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta perkembangan lingkungan strategik yang dinamis.

Diakhir amanatnya, Komandan menekankan kepada setiap prajurit Resimen Artileri–2 Marinir untuk lebih mawas diri dan antisipatif dengan cara meningkatkan profesionalisme dan kesiapan tempurnya sehingga mampu melaksanakan setiap tugas yang diberikan. (marinir.mil.id)

Peran Indonesia Sangat Besar di Unifil

2 Februaria 2009, Lebanon -- Unifil Force Commander (FC), Mayor Jenderal Claudio Graziano secara resmi mengunjungi Indonesian Battalion (Indobatt) atau Satuan Tugas Batalyon Mekanis TNI Kontigen Garuda XXIII-C/UNIFIL (Satgas Yonifmek TNI Konga XXIII-C) di UN POSN 7-1, Adshit al Qusayr, Sabtu (31/1) waktu Lebanon.. FC tiba di Indobatt pukul 09.15 Lebanese Time (LT) dengan menggunakan Helikopter disambut oleh Dansatgas Konga XXIII-C, Letkol Inf. R. Haryono dan juga Sector East Commander (SEC), Brigadir Jenderal Alberto Asarta Cuevas, yang telah tiba lebih awal di markas Indobatt. Kedatangan FC di Indobatt merupakan kunjungan pertama kali sejak Konga XXIII-C melaksanakan tugas di Lebanon Selatan pada 3 Desember 2008. Kedatangan jenderal asal Italia tersebut disambut oleh prajurit Indobatt dengan nyanyian Mars Garuda dan tepuk tangan yang meriah. FC pun menyalami satu persatu para perwira yang berjajar dan sesekali menanyakan jabatan Perwira tersebut.

Agenda dari kunjungan tersebut adalah untuk mengetahui secara langsung kondisi dan disposisi pasukan Indonesia yang berada di UN POSN 7-1 dan sekitarnya. FC mendapatkan penjelasan dari Dansatgas tentang keberadaan pasukan Indobatt serta kondisi terakhir daerah operasi yang menjadi tanggung jawabnya. Dalam kesempatan tersebut FC sangat serius mendengarkan paparan Dansatgas dan secara langsung menanyakan hal-hal yang menjadi perhatiannya, termasuk mengecek setiap kedudukan dan daerah yang menjadi tanggung jawab Konga XXIII-C di atas peta. Setelah mendapatkan paparan, FC beserta SEC melaksanakan peninjauan lapangan ke markas`Kompi C UN POSN 9-2 dan salah satu Static Point yang berada di Az Ziqqiyah. Namun sebelum berangkat, FC melaksanakan penanaman pohon Bartokal (Jeruk Lebanon) dan foto bersama perwira Indobatt.

Dalam kunjungan tersebut FC mengatakan bahwa peran Indonesia (Kontingen Garuda) pada misi Unifil sangat besar. Graziano mengibaratkan bahwa Pasukan Indonesia adalah bottle neck of Unifil. Pernyataan ini sangat beralasan mengingat Kontingen Indonesia merupakan key role (memegang peranan kunci) di area of responsibility (AOR) Unifil, karena kedekatan prajurit Indobatt dengan masyarakat setempat serta posisi pasukan Indonesia yang berbatasan langsung dengan Israel dan Sungai Litani yang merupakan batas daerah operasi Unifil. “Kedekatan prajurit Indonesia dengan masyarakat setempat memegang peranan yang sangat penting dalam menjaga perdamaian di Lebanon Selatan. Hal ini merupakan salah satu alasan yang mendasari pengiriman Force Protection Unit ke Lebanon dipilih dari Indonesia, sebab kedekatan pasukan Indonesia dengan masyarakat Lebanon Selatan, memudahkan Unifil untuk menyelesaikan setiap ada permasalahan yang terjadi”, kata Graziano.

Di Kompi C UN POSN 9-2 Az Ziqqiyah, FC mendapatkan penjelasan secara langsung dari Komandan Kompi C, Kapten Mar Muhammad Rizal tentang kondisi wilayah yang berhadapan langsung dengan Sungai Litani. FC juga meninjau Static Point yang berada di sekitar Sungai Litani, dan beliau pun tidak ragu-ragu turun untuk meninjau Sungai Litani dan mengecek secara langsung batas daerah operasi Unifil. Meskipun hal tersebut cukup berbahaya mengingat daerah sekitar Sungai Litani masih banyak Unexploded Ordnance (UXO). Jenderal Graziano sangat menghargai profesionalisme prajurit Indonesia dan berpesan meskipun Indobatt dekat dengan masyarakat setempat, namun tetap harus waspada dan tegas dalam menghadapi setiap ancaman, khususnya terhadap kemungkinan terjadinya peluncuran roket dari wilayah Indobatt. Langkah ini menurut Graziano sangat penting untuk melindungi pasukan Indonesia sendiri dan mencegah jatuhnya korban. (tni.mil.id)

Panglima TNI Terima Pangab Filipina


2 Februari 2009, Jakarta -- Panglima TNI Jenderal TNI Djoko Santoso menerima kunjungan kehormatan Pangab Filipina, General Alexander B. Yano, dengan upacara penghormatan militer di Markas Besar TNI Cilangkap, Jakarta, Senin (2/2).

Dalam kesempatan tersebut Panglima TNI didampingi oleh Kasal, Kasau, Wakasad, Asintel Panglima TNI. Sementara Pangab Filipina didampingi oleh M.G. Daniel R. Casabar, Captain Ricardo Gary B. Garcia, Colonel Aminkadra S. Undug dan Mayor Davice Christopher G. Mercado. (tni.mil.id)

Minggu, 01 Februari 2009

Iran Memproduksi Jet Tempur Saeqeh


1 Februari 2009 -- Iran akan memproduksi sejumlah pesawat tempur buatan dalam negeri Saeqeh seperti diutarakan oleh Menteri Pertahanan Iran Brigadir Jenderal Mostafa Mohammad Najjar, kepada Fars News Agency Minggu (1/2).

Saeqeh merupakan produksi bersama Angkatan Udara Iran dan Departemen Pertahanan. Ditampilkan kepada publik saat parade militer menyambut hari Angkatan Darat September 2007. Saeqeh diklaim setara dengan F18 Hornet buatan Amerika Serikat.


Selain Saeqeh, Iran telah membuat pesawat tempur Azarakhsh setara dengan F5 Tiger buatan Amerika Serikat. Pada periode tahun 1960-an hingga 1970-an, Iran menerima 11 F-5A dan 2 F-5B yang kemudian dijual kembali ke negara ketiga. Setelah Iran menerima 166 F-5E/F dan 15 RF-5E.

Iran telah mampu memproduksi sendiri tank, kendaraan angkut personel, peluru kendali dan pesawat tempur sejak tahun 1999, sebagai jawaban embargo senjata oleh Amerika Serikat.

@info-terkumpul

Denarhanud Rudal 003

Alutsista
Sebelumnya Denarhanud Rudal 003/1/Dam Jaya mengunakan rudal Rapier buatan British Aerospace Inggris (Sekarang MBDA UK).

Rudal Rapier (Photo : mmvg.net)

Sesuai program peremajaan alutsista, pada 16 Juli 2007 rudal Rapier dikembalikan ke Gudang Pusat Senjata (Gupusjat) Cakung, Jakarta Timur dan Gudang Pusat Munisi (Gupusmu) Bojong Rangkong, Bekasi.

Sebagai pengantinya sistem senjata meriam 23mm/Zur dan rudal permukaan ke udara Grom (Petir) 72mm buatan Radwar (Bumar Group) Polandia.

POPRAD Peluncur rudal anti pesawat terbang (Photo: bumar.com)

Proses pelatihan alutsista baru ini dilakukan di markas Denarhanud Rudal 003/1/Dam Jaya, Cikupa, Tangerang, Banten selama sebulan.

Dimana proses pelatihan dibagi dalam dua tahap, tahap pertama dimulai minggu ketiga September hingga minggu keempat Oktober 2007. Para peserta pelatihan dibagi menjadi dua kelompok. Dimana kelompok pertama mempelajari meriam 23mm/Zur dan kelompok kedua mempelajari rudal Grom, radar dan kendaraan taktis komando.

Mobile Multibeam 3D Search Radar (Photo: bumar.com)

Pelatihan tahap kedua diikuti peserta yang dipersiapkan sebagai teknisi dengan tugas mengatasi permasalahan apabila persenjataan rusak atau mengalami gangguan saat dioperasikan.

Meriam 23mm/Zur Hybrid Rudal Grom (Photo: bumar.com)

POPRAD (Photo: radwar.com.pl)

Setelah proses pelatihan selesai dilakukan uji tembak meriam pada 24-25 Oktober 2007 di lapangan tembak Ciampea, Bogor dengan hasil memuaskan. Kemudian dilakukan uji tembak rudal di lapangan uji tembak senjata berat di Bulus Pesantren, Kebumen, Jawa Tengah pada 28 Oktober – 3 Nopember 2007.

Drone (Photo: pussenarhanud.mil.id)

Empat buah rudal ditembakan ke sasaran berupa drone saat pelatihan berlangsung. Meskipun keempat rudal tersebut luput mengenai sasaran, akan tetapi menurut perhitungan, akurasi, dan toleransi terhadap sasaran yang sesungguhnya berupa pesawat terbang, sasaran dapat dihancurkan sebelum mendekati obyek vital.

Bagian kedua dari dua bagian
Sumber: majalah Defender Tahun 3 Edisi 35 September 2008, bumar.com, radwar.com.pl, pussenarhanud.mil.id

Kunjungan SD Don Bosco II ke KRI Tanjung Kambani-971

30 Januari 2009, Jakarta -- Sebanyak 158 Siswa sekolah dasar Don Bosco II yang berlokasi di Pulau Mas Jakarta Timur didampingi oleh 3 orang guru kelas melaksanakan kunjungan ke KRI tanjung Kambani-971, di dermaga Kolinlamil Tanjung Priok Jakarta, Jumat (30/1).

Kedatangan para siswa sekolah dasar tersebut di terima oleh Komandan KRI Letkol laut (P) OC Budi Susanto yang diwakili Letda Laut (P) Rahmat Al Kadri yang sehari-hari mejabat sebagai perwira Senjata KRI Tanjung Kambani-971.

Dalam kesempatan tersebut disampaikan secara garis besar tentang nama KRI Tanjung Kambani-971 dan sekaligus asal Negara pembuatnya serta kemampuan mengangkut pasukan dalam melaksnakan kegiatan pergeseran pasukan ke daerah operasi di seluruh wilayah Indonesia.

Sementara itu Kepala sekolah SD Don Bosco II Heribertus Supono Spd`mengatakan bahwa kunjungan ini dimaksudkan untuk melihat dari dekat kapal perang TNI AL . Dan untuk merasakan naik kapal perang dan sekaligus untuk memberikan pengalaman secara nyata tentang kapal perang yang dimiliki TNI AL. (tnial.mil.id)

Pembentukan Coast Guard Harus Segera Direalisasikan

1 Februari 2009, Jakarta -- Untuk lebih mampu menjamin stabilitas keamanan dan tegaknya hukum di laut yurisdiksi nasional, maka diperlukan segera membentuk coast guard.

Pasalnya, hingga saat ini keterlibatan beberapa instansi yang memiliki kewenangan mengelola pengamanan dan penegakan hukum di laut terkesan kurang efektif bahkan tidak efisien.

Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Tedjo Edhy Purdijatno menilai perlu mensinergikan kemampuan dan mengintegrasikan kekuatan yang dimiliki oleh seluruh instansi, menjadi sebuah institusi tunggal yang diberi kewenangan penuh untuk pengamanan dan penegakan hukum di laut yurisdiksi nasional yang legalitas formalnya diakui oleh hukum nasional maupun internasional.

Hal tersebut dikatakannya dalam makalahnya yang berjudul “Membangun Visi Maritim dan Sistem Keamanan Laut Dalam Bingkai Wawasan Nusantara” pada acara Rembug Nasional Kelautan 2009 yang diselenggarakan oleh Fakultas Perikanan dan Kelautan, Institut Pertanian Bogor (IPB), Sabtu (31/1) di International Convention Center, IPB, Bogor, Jawa Barat.


Tidak optimal dan kurang efektifnya pengamanan dan penegakan hukum di laut lanjut Kasal, dapat terjadi karena sebagai akibat dari tumpang tindihnya peraturan perundang-undangan yang berimplikasi pada operasional, kurang fokus pada pelaksanaan tugas dari instansi yang melaksanakan tugasnya yang lebih mementingkan ego sektoral atau karena adanya kepentingan-kepentingan tertentu daripada mengutamakan kepentingan nasional serta belum adanya keterpaduan operasional dalam pengamanan dan penegakan hukum di laut.

Lebih jauh Kasal memaparkan, sebagai alternatif solusi terbaik dalam mengoptimalkan pengamanan dan penegakan hukum di laut adalah dengan pembentukan sebuah badan tunggal yang diberi kewenangan penuh dalam pengamanan dan penegakan hukum di laut yurisdiksi nasional, disamping TNI Angkatan Laut sebagai komponen utama pertahanan negara matra laut yang mengemban tugas selain menegakkan kedaulatan negara dan menjaga keutuhan wilayah yurisdiksi nasional juga melaksanakan tugas penegakan hukum nasional dan hukum internasional yang telah diratifikasi (Unclos 82).

“Apapun nama badan hukum tersebut, sudah saatnya untuk direalisasikan. Hal ini selain untuk memenuhi tuntutan dunia internasional juga tuntutan nasional yang menghendaki efektifitas dan efisiensi dalam pengamanan dan penegakan hukum di laut, terang Kasal.

Pada bagian akhir makalahnya Kasal menyampaikan, berpedoman untuk lebih mengutamakan kepentingan nasional, maka pembentukan coast guard sudah sangat mendesak untuk direalisasikan, karenanya untuk mendoring percepatan terwujudnya keinginan tersebut serta memperhatikan visualisasi dalam matrikulasi akan perbandingan keuntungan dan kerugian dari wacana yang berkembang tentang pembentuka coast guard serta menimbang pada kualifikasi dari organisasi coast guard yang akan dibentuk, serta status kedudukannya, maka alternatif pembentukan coast guard dapat dilakukan dengan beberapa cara.

Alternatif pertama dengan membentuk organisasi baru coast guard, karena dapat lebih leluasa pembentukannya dan lebih fleksibel dalam pemenuhan persyaratan sesuai kualifikasi yang diinginkan. Demikian pula resistensi konflik kepentingan dari instansi yang berwenang saat ini relatif kecil.

Sedangkan alternatif kedua yaitu dengan membentuk coast guard yang menggantikan usulan organisasi Bakamla yang diusulkan Bakorkamla dengan memanfaatkan sarana dan prasarana yang dimiliki 13 instansi yang ada. Namun resistensi kepentingan dengan instansi lain masih berpeluang terjadi pada alternatif ini. (mediaindonesia.com)