Senin, 26 Januari 2009

Pesawat Kepresidenan Mendarat Mulus di Lanud Iswahyudi


27 Januari 2009, Madiun -- Pesawat Kepresidenan F-100 dengan nomor penerbangan PK-PFZ yang membawa Wakil Presiden RI Drs. HM. Jusuf Kalla dan Ibu Mufidah Jusuf Kalla serta rombongan tepat pukul 07.56 WIB, Jumat (23/1) mendarat dengan mulus di Lanud Iswahjudi, Magetan, Jawa Timur, dalam rangka kunjungan kerja ke Daerah Kediri.

Wapres dan rombongan yang disambut pejabat Gubernur Jawa Timur Setia Purwaka, Muspida serta Komandan Lanud Iswahjudi Marsekal Pertama TNI Bambang Samoedro, S.Sos, selanjutnya lewat perjalanan darat menuju Kediri untuk melakukan silaturahmi dengan Alim Ulama dan penyerahan bantuan kepada Rumah Sakit Umum Lirboyo, Kediri.

Selanjutnya Wapres melaksanakan juga Sholat Jumat di Masjid yang ada di lingkungan Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri. Setelah meninggalkan kota Kediri Wapres dan rombongan melaksanakan kunjungan ke wilayah Nganjuk sebelum kembali ke Lanud Iswahjudi untuk kemudian dengan pesawat Kepresidenan yang sama membawa Wapres RI dan Ibu Mufidah Jusuf Kalla beserta rombongan kembali ke Jakarta.

Dalam kunjungan singkat orang nomor dua di Republik Indonesia itu, selain didampingi Ibu Mufidah Jusuf Kalla, juga diikuti oleh beberapa Staf Istana Wakil Presiden. (tni.mil.id)

KRI Teluk Ratai 509 Angkut Material Pembangunan Pos-Pos Pulau Terluar

Salah satu unsur Kolinlamil KRI Teluk Ratai-509 melaksanakan kegiatan operasi dalam rangka mendukung pergeseran material dan logistik untuk pembangunan pos-pos pengamanan di wilayah perbatasan pulau-pulau terluar wilayah Indonesia, Kamis (23/1).

Menurut Mayor Laut (P) Hari Wijayanto, KRI Teluk ratai-509 saat ini berada di Biak sedang melaksanakan bongkar material dan logistik. Selama kegiatan operasi pergeseran logistik tersebut, ungkapnya telah dilaksanakan kegiatan mengangkut material logistik dari Jakarta menuju Surabaya dan selanjutnya menempuh perjalanan menuju Kota Baru Kalimantan.

Kegiatan operasi selanjutnya melalui perairan Sulawesi menuju Bitung dalam rangka mendukung pembangunan pos-pos pulau terluar di wilayah tersebut. Berikutnya menyeberangi laut Halmahera menuju Sorong dan selanjutnya menurunkan material dan logistic untuk pembangunan di pos-pos pulau-pulau terluar di Pulau Biak.

Selama kegiatan operasi, menurut perwira lulusan Akademi Angkatan Laut (AAL) tahun 1993 ini, KRI jenis Landing Ship Tank (LST) diawaki oleh 89 personel telah bertugas mulai pertengahan bulan Desember tahun 2008. Selama kegiatan operasi, kondisi perairan lumayan berombak sehubungan dengan musim barat, oleh karena itu dalam melaksanakan kegiatan menyelesaikan tugas dengan route operasi tersebut diatas, kami mengutamakan keselamatan alut sista dan kondisi kesiapan seluruh personel.

Selama kegiatan operasi di sepanjang perairan yang menjadi route dalam penugasan, Ungkap Mayor Laut (P) Hari Wijayanto, juga melaksanakan kegiatan pendeteksian terhadap kemungkinan berbagai tindak pelanggaran yang terjadi di laut. Paling tidak kehadiran KRI Teluk Ratai -509 selama menempuh perairan di perbatasan dapat memberikan dampak yang berarti dalam pengendalian laut di kawasan tersebut, paparnya.

Dalam kegiatan operasi kali ini, KRI Teluk Ratai-509 yang sehari-hari dibawah pembinaan Satuan Lintas laut Militer (Satlinlamil) Surabaya memiliki spesifikasi berat 4080 ton dan mampu mengangkut 17 tank dengan beberapa jenis kendaraan, memiliki kemampuan kecepatan berlayar sampai dengan 9 knot atau 9 mil per jam. Dan mengingat akhir-akhir kondisi cuaca dan gelombang yang cukup lumayan besar, selama kegiatan tersebut kami mengutamakan keamanan dan keselamatan dalam menyelesaikan tugas operasi angkutan material dan logistik.

KRI Teluk Ratai-509 yang diproduksi oleh Amerika tahun 1944 dan memperkuat jajaran TNI AL sejak tahun 1967 dan selanjutnya dibawah pembinaan Komando Lintas Laut Militer sejak Tahun 1990. Kapal perang yang telah berumur puluhan tahun dan memperkuat jajatran TNI AL ini, telah terlibat dalam berbagai kegiatan latihan dan operasi, maupun kegiatan bantuan sosial mengangkut bantuan bencana alam maupun angkutan transmigrasi pada masa lalu ke luar pulau Jawa.

Kondisi saat ini bahwa kapal perang tersebut dalam kondisi siap operasi dalam mendukung tugas-tugas yang diemban komando Lintas laut Militer. Namun mengingat usianya sudah cukup tua ,tentunya banyak kendala yang dihadapi selama melaksanakan tugasnya terlebih dengan kondisi perairan di Indonesia yang saat ini di beberapa wilayah gelombang laut cukup tinggi. (tnial.mil.id)

KRI Teluk Cendrawasih 533 Bertolak Ke Surabaya



27 Januari 2009, Setelah singgah empat hari di Ambon, KRI Teluk Cendrawasih-533 Jumat (22/1) bertolak menuju Surabaya. Kapal perang Class Frosh dengan komandan kapal Mayor Laut (P) Baharudin Anwar ini, setelah mengisi bahan bakar kapal terlihat sibuk menyiapkan kapal untuk lepas dari dermaga.

Kesibukan kapal yang akan bertolak dapat dilihat dari beberapa aktivitas para Anak Buah Kapal (ABK). Mulai dari komandan, palaksa, sampai prajurit lainnya sibuk menyiapkan kapal akan lepas dari dermaga. Sayup-sayup terdengar suara dari anjungan kapal, ”Peran persiapan kapal berlayar dan bertempur..., peran persiapan kapal berlayar dan bertempur. Tidak lama kemudian terdengar suara lagi. ”Peran muka belakang.....peran muka belakang, anggota yang bertugas menempati posnya masing-masing”. Kemudian pelan-pelan kapal pun mulai lepas dermaga, dan siap untuk berlayar menuju Surabaya.

Baik anggota Satgas maupun ABK (Anak Buah Kapal) tidak terasa bahwa pelayaran yang telah ditempuh selama ini sudah hampir sebulan. Sejak tolak dari Dermaga Ujung Koarmatim Surabaya tanggal 2 Januari hingga kini sudah 20 hari para ABK dan personel Satgas meninggalkan kampung halaman. Ditambah pelayaran dari Ambon ke Surabaya 3 hari, jadi total selurunya 23 hari.

Seperti diberitakan sebelumnya, bahwa KRI Teluk Cendrawasih-533 dan KRI Teluk Sampit-515 bertolak ke Merauke dalam rangka mendukung pelaksanaan peresmian Pangkalan Utama TNI Angkatan Laut (Lantamal) XI. Misi yang diemban, yaitu membawa personel Satgas peresmian, personel upacara serta sarana dan prasarana termasuk kendaraan bermotor yang harus diperlukan di Lantamal XI Merauke. Pangkalan tersebut diresmikan Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana TNI Tedjo Edhy Purdijatno, SH.

Hari itu masih terasa pagi, ketika kapal semakin menjauhi dermaga semua personel yang on board di kapal samar-samar masih memandang keindahan kota Ambon. Sebuah kota menawan yang seakan terbelah dua pulau, dan hamparan laut yang jernih berada di tengah-tengahnya. Sungguh menajubkan memang. Kebesaran Tuhan tiada dua nya. Namun ketika kapal selesai dari peran pemanduan dan menuju laut lepas, baru sadar ingatan ini kembali lagi ke rumah. Sebuah penantian panjang, bagi setiap orang yang telah lama meninggalkan keluarganya. (tnial.mil.id)

Third Su-30 fighter for Indonesia passes flight tests

January 26, 2009, Moscow -- Russia's Sukhoi holding said on Monday that a third Su-30MK2 fighter, delivered to Indonesia last week, had passed flight tests at an airfield on the island of Sulawesi.

Under a $300 million contract, signed in 2007, Russia has supplied three Su-30MK2 planes and will deliver three Su-27SKM fighters to Jakarta in addition to the two Su-27SK and two Su-30MK planes that are already in service with the Indonesian air force.

"During a 1-hour flight, the Russian military pilots checked the performance of all on-board systems. Two Su-30MK2 fighters, delivered in December, were tested on January 6," the company said.

Russia is scheduled to deliver three Su-27SKM planes to Indonesia in 2009-2010.

The aircraft will become part of the 11th Squadron and will be based at the Sultan Hasanuddin airbase on Sulawesi.(RIA Novosti)

Torpedo Buatan PT. DI

SUT Torpedo (Photo: tni.mil.id)

Torpedo merupakan senjata andalan kapal selam dalam suatu pertempuran laut. Kebutuhan akan torpedo akan meningkat bersamaan kedatangan dua buah kapal selam KRI Cakra dan KRI Nanggala dari Jerman. Selain digunakan oleh kapal selam, torpedo digunakan juga oleh kapal permukaan milik TNI-AL.

Pemerintah pada saat itu, memutuskan untuk memproduksi sendiri torpedo guna memenuhi kebutuhan tersebut. PT. Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) sekarang PT. Dirgantara Indonesia (PT. DI), ditunjuk sebagai produsen torpedo dalam negeri. Dengan pertimbangan, merupakan perusahaan yang paling siap ditinjau dari sistem, sumber daya manusia, sarana serta prasarananya.

Menggunakan lisensi dari AEG (Allgemeine Elektrizitäts-Gesellschaft, General Electricity Company) Jerman, PT. DI mulai memproduksi SUT Torpedo di Kawasan Produksi V di Pulau Madura. Produksi SUT Torpedo menyerap tenaga kerja sebanyak 399 orang.

Pada awalnya, direncanakan akan diproduksi 100 buah SUT Torpedo sesuai pesanan Dephan. Hingga saat ini, jumlah tersebut belum terpenuhi karena TNI AL membeli sesuai dengan anggaran yang tersedia setiap tahunnya.

SUT Torpedo dapat ditembakan dari helikopter, seperti NAS 332 Super Puma atau dari pesawat CN-235 MPA.

PT. DI membuat dua varian SUT Torpedo, latihan dan perang. Khusus varian latihan baterai torpedo dapat diisi ulang. Satu kali isi ulang dapat digunakan 10 hingga 15 kali latihan. Sedangkan varian perang tidak ada informasi yang detil dari PT. DI daya tahan baterainya. Akan tetapi umur baterai dapat diperpanjang, jika usia pakainya terlewati. Hal ini membuat usia pakai SUT Torpedo menjadi lebih lama.

Panjang SUT Torpedo dengan kasket 6620 mm, sedangkan tanpa kasket 6150 mm. Berat torpedo varian perang 1413.6 kg, varian latihan 1224 kg. Dengan membawa hulu ledak seberat 225 kg SUT Torpedo mampu mengkaramkan sebuah frigate. Jarak jangkau SUT Torpedo 38 km dengan kemampuan menyelam hingga 100 m.

Pengembangkan SUT Torpedo terhenti di fase ketiga, fase elektronik. Dari lima fase yang harus dilewati dalam pengembangan SUT Torpedo. Terhentinya pengembangan ini, karena pemerintah saat itu memprioritaskan pengembangan pesawat N-250. Sedangkan pemerintah sekarang, belum terlihat meneruskan pengembangan SUT Torpedo ke fase selanjutnya. (@majalahmiliter.blogspot/info-terkumpul.blogspot)

Minggu, 25 Januari 2009

TNI Butuh Ratusan Dokter

25 Januari 2009, Jakarta -- Ini panggilan bagi para tenaga medis untuk mengabdi sebagai prajurit negara. Mabes TNI mencatat, minat dokter untuk mendaftar sebagai perwira TNI belakangan ini cenderung menurun. Akibatnya, TNI kesulitan memenuhi target jumlah dokter untuk ditugaskan di batalyon-batalyon pasukan dan 104 rumah sakit militer.

"Kami membutuhkan banyak dokter untuk ditempatkan di berbagai satuan dan kebutuhan darurat dalam operasi-operasi penanggulangan bencana," ujar Kepala Pusat Penerangan Mabes TNI Marsekal Muda Sagom Tamboen.

Beberapa penyebabnya adalah adanya kemudahan bagi dokter baru untuk langsung melanjutkan pendidikan ke jenjang spesialis. Selain itu, kemudahan mendapatkan izin praktik berpengaruh terhadap menurunnya minat dokter baru menjadi perwira TNI.

Saat ini jumlah dokter dan tenaga paramedis sekitar 60 persen dari kebutuhan. Dengan begitu, kini digiatkan sosialisasi penerimaan dokter baru melalui ikatan dinas di berbagai perguruan tinggi Indonesia. "Misalnya, memberikan beasiswa kepada mahasiswa yang telah menyelesaikan sarjana kedokterannya. Kemudian, setelah lulus menjadi dokter, mereka mengikuti ikatan dinas sebagai militer," kata Sagom.

Kebutuhan dokter militer meningkat terutama untuk penanganan bencana alam dan kecelakaan sipil. Misalnya, korban yang mengalami musibah di tengah samudra membutuhkan penanganan khusus. (jawapos.com)

Sabtu, 24 Januari 2009

Menhan Terima Aspirasi Masyarakat Maluku Dalam Bidang Pertahanan


23 Januari 2009, Jakarta, -- Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono, Jumat (23/1), menerima kunjungan Komisi A DPRD Propinsi Maluku, di Kantor Dephan, Jakarta. Delegasi Komisi A DPRD Propinsi Maluku sebanyak enam orang tersebut, dipimpin oleh Ketua Komisi A Roland Tahapary SH.

Kunjungan Anggota Komisi A DPRD Propinsi Maluku kali ini menemui Menhan Juwono adalah untuk menyampaikan aspirasi masyarakat dalam bidang pertahanan dan keamanan kepada Pemerintah Pusat yang merupakan agenda tahunan dari DPRD. Aspirasi yang pertama yaitu persiapan Pemilu Legislatif dan Pemilihan Presiden di Maluku, terutama dalam menciptakan situasi Maluku yang aman dan terkendali.

Ketua Komisi A DPRD Maluku juga menyampaikan kondisi kesejahteraan anggota TNI yang menjadi Babinsa di Maluku yang masih rendah, asrama bagi anggota TNI yang sangat kurang, serta mengenai diperlukannya tambahan pos-pos perbatasan dan kondisi prajurit TNI yang bertugas di pos-pos perbatasan atau pulau-pulau terluar.

Kepada menhan Ketua Komisi A DPRD Propinsi Maluku menjelaskan, mengenai permasalahan sengketa tanah Bandara Patimura dan masyarakat sekitar dengan TNI AU. Penyebabnya adalah sertifikat tahun 1984 yang menyatakan luas 251 hektar, sedangkan bila itu digelar akan mengenai 3 desa, selain itu juga disampaikan bahwa seringnya terjadi gesekan antara oknum TNI dan oknum Polri di daerah bermuara kepada masalah kesejahteraan pada Prajurit TNI di daerah dan Polri yang sangat timpang.

Menanggapi penjelasan dari Komisi A DPRD Propinsi Maluku, menhan mengatakan bahwa masalah pemekaran daerah, Dephan dan Mabes TNI melihat posisi TNI adalah mendukung aparat sipil serta perangkat peradilan dalam jarak yang cukup terukur. Tidak lagi seperti dulu yang serba di depan dan serba menentukan pada jaman orde baru. Saat ini TNI hadir hanya ketika aparat sipil tidak mampu mengatasi keadaan atau dalam keadaan darurat.

Dijelaskan menhan, Dephan dengan anggaran pertahanan yang terbatas, senantiasa berusaha meningkatkan kesejahteraan prajurit TNI berpangkat rendah terutama yang berada di wilayah-wilayah terpencil. Walaupun peningkatan kesejahteraan ini belum cukup untuk menjamin keamanan dan ketertiban masyarakat yang memadai.

Menhan Juwono berterimakasih atas masukannya dan menyatakan akan menindaklanjuti dengan meneruskan masukan dari DPRD Propinsi Maluku ini kepada Sekjen Dephan dan Mabes TNI. Mengenai sengketa tanah bandara, perlu diadakan pertemuan antara Departemen Perhubungan, PT Angkasa Pura, Kepala BPN untuk membicarakan sengketa ini.

Saat menerima anggota DPRD Propinsi Maluku, Menhan Juwono didampingi oleh Staf Ahli Menhan Bidang Ideologi dan Politik Dr Agus Brotosusilo SH, MH, Kepala Biro Humas Setjen Dephan, Brigjen TNI S. Haryanto, Kepala Biro TU Setjen Dephan Kol Laut (P) Agus Purwoto. (DAS/HDY/DMC)