Tampilkan postingan dengan label kampung adat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kampung adat. Tampilkan semua postingan

Senin, 08 November 2010

Kampung Ciptagelar (Kabupaten Sukabumi)

Lokasi: Kampung Sukamulya, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Sisolok, Kabupaten Sukabumi

Batas wilayah: Kampung ini terletak di dalam kawasan hutan konservasi Taman Nasional Gunung Halimun bagian selatan, di ketinggian 1.050 meter di atas permukaan laut.
Kampung Ciptagelar dikelilingi Gunung Surandil, Gunung Karancang, dan Gunung Gunung Kendeng.

Sekilas: Kampung ini memiliki ciri khas dalam lokasi, bentuk rumah, dan tradisi serta tempat tinggal para sesepuh. Ciptagelar dipimpin oleh Abah Anom yang menjadi sesepuh dalam usia sangat muda, yakni tujuh belas tahun. Dia merupakan struktur tertinggi dalam pemerintahan dan dibantu oleh baris kolot (Tetua) Cipta Gelar.

Tahun 1960, Ciptagelar memiliki nama khusus yakni Perbu. Kemudian berganti menjadi kasepuhan atau kesatuan. Lalu tahun 2001, kampung yang sebelumnya bernama Ciptarasa ini berganti nama menjadi Kampung Gede Kasepuhan Ciptagelar, setelah Abah Anom mendapat wangsit untuk pindah ke Desa Sirnaresmi.

Mata pencaharian masyarakat Ciptagelar rata-rata bertani, bercocok tanam padi, beternak dan berkebun. Masyarakat kampung Ciptagelar beragama Islam, tetapi unsur animinsme dan dinamisme masih kental. Tradisi adat yang dilaksanakan setiap tahun yaitu Seren Taun, yang merupakan rasa syukur atas keberhasilan panen tiap tahunnya. (Pikiran Rakyat)

Kamis, 04 November 2010

Kampung Cigugur (Kabupaten Kuningan)

Lokasi: Desa Cigugur, Kabupaten Kuningan.

Nama Kampung Cigugur erat kaitannya dengan aliran kepercayaan tertentu yang bercampur baurnya ajaran agama. Kampung ini pernah menjadi pusat aliran kepercayaan Madraisme, sekitar tahun 1921. ajaran ini dikembangkan Madrais yang merupakan pangeran dari kerajaan kecil Gebang Losari, Cirebon. Aliran kepercayaan yang dikembangkan dikenal dengan nama Agama Djawa Sunda (ADS. Tahun 1964 aliran ini dilarang oleh pemerintah. Pengikutnya dibawah pimpinan P. Tedjakusuma berbondong-bondong masuk Katolik, sebagian kecil masuk Protestan. Putra Tedjkusuma, bernama P. Djatikusumah lalu mendirikan aliran Paguyuban Adat Cara Karuhun Urang (PACK). Pengikut Djatikusumah bertambah banyak, terutama bekas mengikut Madrais yang sudah menganut Katolik. Maret 1982, Djatikusumah keluar dari Katolik dan diikuti pengikutnya. Agustus 1982, Kejaksaan Tinggi Jawa Barat melarang aliran Djatikudumah yang dianggap meneruskan aliran Madraisme.

Masyarakat kampung ini amat kuat memegang tradisi karuhun (leluhur). Mereka menggelar Seren Taun setiap 22 Rayagung, yang merupakan bentuk syukur dan penghormatan kepada Dewi Sri (Dewi Padi). Perayaan di gedung Paseban yang menjadi cagar budaya. Digunakan pula untuk menyimpan benda bersejarah. (Pikiran Rakyat)

Minggu, 31 Oktober 2010

Kampung Cikondang (Kabupaten Bandung)

Lokasi: Desa Lamajang, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung.
Terletak 38 km dari kota Bandung dan 11 km dari pusat Kecamatan Pangalengan.

Batas Wilayah: utara; Desa Cikalong dan Desa Cipinang (Kecamatan Cimaung), selatan; Desa Pulosari, timur; Desa Tribakti Mulya, barat; Desa Sukamaju

Sekilas: Pendiri Kampung Cikondang diyakini seorang wali, bernama Uyut Pameget atau Uyut Istri. Menurut perkiraan. Uyut Pameget mendirikan pemukiman ini sekitar 1800-an atau awal abad kesembilan belas.
Tahun 1942 terjadi kebakaran yang menghanguskan semua rumah di perkampungan, kecuali rumah yang dinamakan Bumi Adat. Akibatnya, rumah-rumah di kampung ini tidak dapat dibangun secara tradisional atau identik seperti sebelumnya, karena kekurangan bahan bangunan.

Di Kampung Cikondang ada jabatan kuncen Bumi Adat, yang dipilih berdasarkan wangsit. Calon kuncen harus laki-laki dan memiliki ikatan darah keturunan leluhur Bumi Adat.

Seluruh warga Kampung Cikondang beragama Islam, tetapi masih memercayai roh-roh lelehur yang melindungi mereka setiap saat. Adat istiadat yang bertalian dengan leluhur, misalnya kebiasaan mematuhi segala pantangan dan melaksanakan upacara-upacara adat. (Pikiran Rakyat)

Selasa, 19 Oktober 2010

Kampung Dukuh (Kabupaten Garut)

Lokasi: Desa Cijambe, Kecamatan Cikelet, Kabupaten Garut. Jarak dari Kota Bandung sekitar 160 km ke arah selatan dan dari pusat pemerintahan Kab. Garut sekitar 101 km.

Batas Wilayah: Utara; Kampung Palasari Desa Karangsari, selatan; Kampung Cibalagagung Desa Cijambe, timur; Kampung Nangela Desa Karangsari, barat; Kampung Ciawi Desa Cijambe.

Sekilas: Awal mula Kampung Dukuh erat kaitannya dengan Syehk Abdul Jalil yang makamnya masih ramai diziarahi hingga kini, bukan hanya oleh penduduk kampung, melainkan juga orang-orang dari luar kampung yang berada di Madura dan Kalimatan Timur. Hal ini terjadi karena Kampung Dukuh dipercaya sebagai tempat memperoleh berkah.

Berdasarkan legenda setempat,Syehk Abdul Jalil berasal dari luar Kampung Dukuh. Diduga karena berselisih dengan atasannya di Sumedang, yang mungkin menyangkut mazhab agama, dia bersama pengikutnya pindah dan menetap di Dukuh.

Dalam Kawasan Kampung Dukuh terdapat 42 rumah dan bangunan mesjid. Di dalam Kampung Dukuh Dalam terdapat 40 KK serta 172 penduduk dan 70 KK untuk Kampung Dukuh Luar. Mata yang masih mematuhi Kasuaran Katuhun (tabu/nasehat leluhur) ini berpercaharian bertani, beternak, memelihara ikan dan usaha penggilingan padi. Beberapa upacara adat yang masih dilakukan penduduk adalah Moros, Ngahaturan Tuang, Nyanggakeun, dan lain-ain. (Pikiran Rakyat)

Sabtu, 09 Oktober 2010

Kampung Bumi Segandu Dayak Losarang (Kabupaten Indramayu)

Lokasi: Kampung Segandu, Desa Krimun, Kecamatan Losarang, Kab. Indramayu.

Sekilas: Nama komunitas ini mengandung beberapa arti atau memiliki kandungan filosofis, yaitu bahwa setiap manusia berjalan dan berdiri di atas masing-masing untuk mencapai tujuan sesuai dengan kepercayaan dan keyakinannya masing-masing; manusia memiliah dan memilih mana yang benar dan mana yang salah; setiap manusia dilahirkan dalam keadaan telanjang; kekuatan hidup; ibu (perempuan) merupakan sumber hidup, karenanya wajib menghormati kaum perempuan.

Komunitas ini meneladani perikehidupan kelima tokoh Pandawa, yang terdiri atas Yudistira, Bima (Wrekudara), Arjuna (Permadi), Nakula dan Sadewa, serta tokoh Semar yang dipandang sebagai seorang mahaguru yang sangat bijaksana.

Ajaran dari kelompok ini “Dayak Indramayu” dinamakan dengan sebutan Sajarah Alam Ngaji Rasa. (Pikiran Rakyat)

Jumat, 01 Oktober 2010

Kampung Kuta (Kabupaten Ciamis)

Lokasi: Desa Karangpaningal, Kecamatan Tambaksari, Kabupaten Ciamis

Batas Wilayah: utara; Desa Cibodas, selatan; Sungai Cijulang, Timur; Sungai Cijulang, barat; Dusun Margamulya, Jarak Kampung kuta dari Ciamis sekitar 34 km kea rah utara.

Sekilas: Kampung ini berada di lembah curam sedalam 75 meter, dikelilingi tebing dan perbukitan. Berdasarkan dongeng buhun, asal usul Kampung Kuta adalah Kuta Pandak yang batal menjadi ibu kota Kerajaan Galuh. Nama lain kampung ini adalah Kuta Jero.

Masyarakat Kampung Kuta sangat menjaga hutan keramat. Jika ada warga yang meninggal dunia akan dimakamkan di Cibodas. Seluruh penduduk Kampung Kuta beragama Islam. Masyarakat Kuta sangat kuat kepercayaannya terhadap mahluk gaib dan tabel (tempat-tempat keramat).

Beberapa tempat yang dikeramatkan yaitu Leuweung Gede (Leuweung Karamat), Gunung Wayang, Gunung Pandai Domas/Gunung Tahanan, Gunung Barang, Gunung Batu Goong, dan Ciasihan. Warga Kampung Kuta juga mendasarkan beberapa kegiatan atau keperluan pada hari baik dan hari buruk dan memilki beberapa aturan adat atau tabu yang harus ditaati. (Pikiran Rakyat)

Rabu, 22 September 2010

Kampung Mahmud (Kabupaten Bandung)

Lokasi: RW 04 Desa Mekarrayahu, Kecamatan Margaasih, kabupaten Bandung.
Dikampung Mahmud hanya terdapat dua RT, yakni RT 01 dan RT 02.

Batas Wilayah: Utara; Sungai Citarum baru, timur; Sungai Citarum lama, selatan; Sungai Citarum lama, barat; Sungai Citarum lama

Sekilas: Pada abad kelima belas, Eyang Dalem Abdul Manaf yang keturunan Sultan Mataram pergi ke Mekah dan kembali dengan membawa segenggam tanah. Tanah itu kemudian diletakkan di wilayah rawa yang angker di pinggir Sungai Citarum, yang kemudian berkembang menjadi Kampung Mahmud.
Warga kampung ini dilarang membuat sumur, tembok dan kaca, karena tanahnya labil yang berasal dari rawa. Dia pung melarang memelihara ternak angsa dan kambing, atau memiliki beduk dan gong untuk menghindarkan masyarakat dari penjajah.

Kampung ini tidak meluap. Mata pencaharian penduduk adalah bertani, memproduksi mebel, konveksi, dan lain-lain. Kesenian khas adalah kasidah. Upacara adat di kampung ini adalah perkawinan, kehamilan, kematian, membangun rumah, dan memandikan keris. Masyarakat Kampung Mahmud beragama Islam dengan kepercayaan terhadap karuhun yang kental. (Pikiran Rakyat)

Sabtu, 18 September 2010

Kampung Naga (Kabupaten Tasikmalaya)

Lokasi: Kampung Legok Dage, Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya

Batas Wilayah: Utara; Sungai Ciwulan, timur; Sungai Ciwulan, selatan; sawah-sawah penduduk, barat hutan keramat tempat makam leluhur masyarakat Kampung Naga.

Sekilas: Banyak versi beredar mengenai sejarah Kampung Naga, karena tidak ada catatan resmi, saat pemberontakan DI/TII pimpinan Kartosuwiryo, dokumen-dokumen sejarah Kampung Naga ikut musnah.

Nama Kampung Naga diduga berasal dari kata Kampung Nagawi, kemudian lebih sering disebut dengan Kampung Naga.

Pada masa kewalian Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Djati, seorang muridnya yang bernama Singaparana ditugaskan untuk menyebarkan agama Islam ke sebelah barat, hingga mencapai daerah Neglasari (Kampung Naga). Awalnya di kampung ini penduduknya beragama hindu, karena berasal dari Kerajaan Pajajaran. Setelah Singaparana datang akhirnya mereka memeluk Islam. Kemudian Sembah Dalem Singaparana ini menjadi leluhur dan sosok yang dihormati oleh masyarakat Kampung Naga.
Masyarakat kampung Naga sangat memelihara aturan dan adat yang berasal dari nenek moyangnya dan sangat mempercayai hal-hal mistis. (Pikiran Rakyat)

Jumat, 27 Agustus 2010

Kampung Panjalu (Kabupaten Ciamis)

Lokasi: Desa/Kecamatan Panjalu, Kabupaten Ciamis

Sekilas: berdasarkan sejarah, di daerah ini dahulu pernah berdiri kerajaan besar bernama Panjalu. Kampung ini sangat terkenal dengan upacara adat Nyangku yang digelar untuk mengingat jasa dan perjuangan para leluhur, yaitu Prabu Sanghiang Boros Ngora. Dia adalah salah seorang Raja Panjalu yang cukup terkenal. Sebelum menjadi raja, Prabu Boros Ngora sempat ke Mekah untuk berguru mengenai ilmu-ilmu keislaman. Konon, disana dia langsung berguru dengan Sayidina Ali, sahabat Rasulullah saw. Seusai berguru, Prabu Boros Ngora diberi cendera mata berupa pedang, cis (jubah) dan air zamzam. Sepulangnya dari Mekah, barulah Prabu Boros Ngora diangkat menjadi Raja Panjalu.

Hingga sekarang upacara adat Ngangku masih dilakukan oleh masyarakat Panjalu, yaitu ritus membersihkan benda pusaka yang disimpan di Pasucian Bumi Alit. Bumi Alit dulu hanya berupa bangunan kecil yang dibangun dari bambu, kayu, dan atap injuk. Pada tahun 1955 diadakan pemugaran yang menjadikan Bumi Ait berbeda dan lebih kelihatan modern. (Pikiran Rakyat)

Selasa, 17 Agustus 2010

Kampung Pulo (Kabupaten Garut)

Lokosi: Kampung Cijakar, Desa Cangkuang, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut.

Batas wilayah: Utara; Desa Neglasari Kecamatan Kadungora, timur; Desa Karang Anyar dan Desa Tambak Sari Kecamatan Leuwigoong, selatan; Desa Margaluyu dan Desa Sukarame Kecamatan Leles, barat; Desa Talagasari Kecamantan Kadungora dan Desa Leles Kecamatan Leles.

Sekilas: Pada awalnya, Masyarakat Kampung Pulo beragama Hindu. Kemudian Embah Dalem Muhammad singgah ke daerah ini, saat dia terpaksa mundur karena mengalami kekalahan pada menyerangan terhadap Belanda. Kekalahan ini membuat dia tidak mau kembali ke Mataram karena malu dan takun kepada Sulat Agung. Dia beserta kawan-kawannya kemudian menetap didaerah Cangkuang yaitu Kampung Pulo dan mulai menyebarkan agama Islam pada daerah tersebut hingga wafat.

Sepeninggal Embah Dalem Arif Muhammad, di kampung tersebut dibuat enam rumah adat yang berjejer saling berhadapan, ditambah satu mesjid. Jumlah rumah tersebut tidak boleh ditambah atau dikurangi dan penduduk yang menempati pun tidak boleh lebih dari enam kepala keluarga.

Masyarakat kampung ini memegang aturan-atruan,antara lain, bentuk rumah, atap selamanya harus memanjang (jolopong); juga tidak boleh memelihara teranak besar berkaki empat, seperti kambing, sapi, kerbau dan lainnya; dilarang memukul goong besar; yang berhak menguasai rumah adat adalah wanita. Bagi anak laki-laki yang sudah menikah harus meninggalkan kampung. Masyarakat Kampung Pulo seluruhnya beragama Islam, tetapi mereka juga tetap melaksanakan sebagian ritus Hindu. (Pikiran Rakyat)

Sabtu, 14 Agustus 2010

Kampung Urug (Kabupaten Bogor)

Lokasi: Desa Kiara Pandak, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor

Batas Wilayah: Utara; Tajur, selatan; Mandala, timur; Pasirpeuteuy, barat; Pasirmadang
- Dialiri Sungai Ciapus, Cidurian, dan anak Sungai Ciapus.
- Jarak Kampung Urug dari Bandung sekitar 165 km kearah barat dan jarak dari Cibinong sekitar 42 km. Kampung Urug dapat dicapai menggunakan kendaraan roda dua ataupun roda empat.

Sekilas: Menurut penuturan warga, riwayat Kampung Urug merujuk pada kejayaan Kerajaan Pajajaran pada abad kelima belas. Tetua adat dikampung ini juga mengaku merupakan keturunan Prabu Siliwangi. Menurut cerita yang ada di masyarakat, sejarah beberapa kampung adat seperti Ciptagelar dan Baduy juga berkaitan dengan sejarah Kerajaan Pajajaran. Dalam paparan lain dijelaskan bahwa nama Urug sebenarnya berasal dari kata “guru”. Menurut pikukuh ada kepercayaan, Kampung Urug sudah berdiri sejak 450 tahun lalu.
Kampung dengan luas 9 hektare ini dihuni oleh 692 KK atau sekitar 2.894 jiwa. Sebanyak 85% masyarakatnya menggunakan hidupnya pada bertani dan sisanya bekerja sebagai pedagang dan menjadi buruh tani.

Dikampung ini dibangun Gedong Ageung yang merupakan pusat kewenangan kepemimpinan adat. Selain itu terdapat pula Gedong Alit dan Gedong Pangkaleran.

Tiga kepempinan yang mengembalikan keberadaan kampung ini antara lain Kikolot Ukat atau disebut juga Kokolot Leubak, Kikolot Amat atau disebut juga Kokolot Tengah, dan Kikolot Tengah bernama Rajaya.
Sedikitnya ada tujuh kegiatan warisan leluhur yang masih dilaksanakan oleh warga Kampung Urug hingga kini, yaitu Sidekah Bumi, Seren Taun, Rowahan, Muludan, Muharaman, Iduladha, dan lebaran (idulfitri). (Pikiran Rakyat)