Selasa, 07 Agustus 2012

Ramadan Bersahaja di Kampung Adat

Ramadan Bersahaja di Kampung Adat
KRISHNA AHADIYAT/"PR"
RUMAH adat Kampung Kuta yang masih tetap terjaga kelestariannya di Dusun Kuta, kecamatan Tambaksari, Kabupaten Ciamis, Jumat (27/7). menururt sesepuh Kampung adat Kuta, Ki Warja (64), agama Islam yang dipeluk warganya merupakan amanat dari para pendahulu. Adalah "pamali' jika ada warga yang tidak mengemban amanat itu dengan baik.*
Di Kota, suasana Ramadan identik dengan ingar-bingar yang dibalut komersialisme. Sementara di kampung adat, Ramadan disikapi secara sederhana. Tidak ada penjual tajil dadakan atau pemhamburan uang dengan membakar petasan. Masyarakat kampung adat menjalni puasa apa adanya dengan tetap menjung karifan lokal.

Akhir pekan lalu, ”Pikiran Rakyat” berkesempatan mengunjungi Kampung Naga di Kabupaten Tasikmalaya dan Kampung Kuta di Kabupaten Ciamis. Meski hanya melewatkan waktu masing-masing satu hari dikedua kampung itu, kesan khidmat dan kerendahan hati dengan mudah ditangkap. Orang-orang yang menghabiskan hidupnya dengan memegang teguh prinsip adar-istiadat itu ternyata dapat memaknai Ramadan begitu dalam.

Di kampung Naga, warga berbuka puasa dengan memanfaatkan bahan-bahan makanan yang dihasilkan dari bumi kampungnya. Beras dari sawah yang ditanam sendiri, sayur-mayur dari kebun yang mereka petik sendiri, dan ikan dari sungai Ciwulan yang mereka pancing sendiri. tidak ada menu istimewa yang sengaja dihidangkan sebagai kompensasi menahan lapar seharian seperti yang banyak terjadi di perkotaan.

Aktivitas warga pun berlangsung sebagaimana hari-hari lain di luar Ramadan. Para perempuan masih menumbuk padi untuk makanan sehari-hari. Anak-anak juga masih dengan sabar menapaki ratusan anak tangga dalam perjalanan pergi dan pulang sekolah. Kampung naga pun tetep dibuka untuk kunjungan para wisatawan mancanegara dan lokal. Pria-pria kampung Naga yang bekerja sebagai pemandu kunjungan dengan sabar menemani dan menjawab pertanyaan dari para pengunjung.

Menurut salah satu warga Kampung Naga, Abah Ayo (56), tidak ada yang istimewa dengan pelaksanaan ibadah puasa di kampungnya. Hanya ada dulag di masjid kampung yang selalu dibunyikan untuk membangunkan warga menjelang sahur. Suasana berbeda baru didapat pada malam hari takbiran, dimana gema takbir dengan alunan dulag diselingi dengan permainan rebana dan lantunan selawat.
**

Di Kampung Kuta Kabupaten Ciamis, bulan Ramadan tahun ini dijalani dengan khidmat. Kondisi kampung yang kesulitan air membuat banyak warga mengalami gagal panen. Sebagian warga menyebut tahun ini sebagai tahun paceklik. Itu sebabnya, para sesepuh adat di kampung Kuta mengimbau agar semua warga menahan diri. Anak-anak tidak diperkenankan membakar petasa. Selain mengganggu ketertiban, bermain petasan juga dianggap menyia-nyiakan uang. Warga kampung pun diimbau untuk memanfaatkan hasil bumi kampung seefisien mungkin.

Menurut sesepuh kampung Kuta. Ki Warja (64). Agama Islam yang dipeluk warga Kampung Kuta merupakan amanat dari para pendahulunya. Adalah pamali jika ada warga yang tidak mengemban amanat itu dengan baik. Itu sebabnya, sampai sekarang, semua warga Kampung Kuta masih memeluk agama Islam. “Aya kasebat cenah pamali. Pamali téh aya makna, perilaku manusa anu bener, jujur, yakin, iman. Pamali téh poma ulah lali,” ujarnya.

Hanya dengan kecap pamali dari tokoh adat, warga dapat memahami norma-norma yang berlaku dalam kehidupan di kampung adat. Jarang ada warga yang berani melanggar hal-hal yang dianggap tabu itu. Mungkin itu sebabnya Ki Warja sangat yakin bahwa tradisi memeluk agama Islam di Kampung Kuta akan bertahan hingga kiamat datang.

Suasana puasa di Kampung Kuta baru terasa hingar bingar pada sepuluh malam terakhir Ramadan, terutama pada malam ganjil. Dalam rangka menyambut lailatulqadar, warga melaksanakan syukuran pada setiap malam ganjil. Penduduk setempat kerap mengistilahkannya sebagai lilikuran. Para pria dan anak-anak menggelar terbangan, permainan alat musik mirip rebana yang dipadu dengan lantunan selawat dan lirik tentang dakwah.

Pada malam-malam itu, secara bergantian, warga mengirimkan makanan ke masjid kampung untuk disantap para jemaah. Biasanya, acara berlangsung sejak bakda salat Isya hingga menjelang sahur. Makanan yang dihidangkan merupakan makanan khas Kampung Kuta.

Seperti Kampung Naga, bahan-bahan yang digunakan sebagai makanan juga berasal dari hasil bumi kampung. Di Kampung Kuta, makanan khas yang selalu hadir saat malam lilikuran adalah cimplung, yaitu singkong muda yang direbus dalam air gula aren.

Begitulah warga kampung adat menyikapi Ramadan. Mereka dapat menempatkan dari sesuai dengan makna-makna dalam setiap berkah yang terkandung di bulan puasa. Tidak ada satu pun warga yang ditemui "PR" dalam mengungkapkan kresahannya menyambut Lebaran. Mereka semua tampak berbahagia dan bersyukur dengan apa yang dilikinya saat ini. Cara pikir mereka memang sederhana, tetapi merekalah yang justru mampu memahami ini dari bulan penuh ampunan ini. Mereka tidak terjebak ke dalam makna-makna semu yang terkadang sangat jauh dari arti Ramadan yang sesungguhnya.

Sumber: Lia Marlia/”Pikiran Rakyat”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar