Sabtu, 11 Agustus 2012

Perempuan Miskin yang Dermawan

(Oleh: Yuliash, tutor di Pendidikan Anak Usia Dini [PAUD] Huwaida, Sarijadi, Kota Bandung. /”Pikiran Rakyat”)

SUATU ketika, dalam perjalanan dari Syam ke Hijaz, Abdullah bin Abbas ra dan rombongan singgah di suatu temapt. Ternyata mereka kehabisan bekal makanan. “pergilah ke dusun terdekat dari sini. Mudah-mudahan kau berjumpa dengan seorang penggembala atau orang yang mempunyai susu atau makanan.” Kata Ibnu Abbas kepada seorang anggota rombongan.

Bersama beberapa pelayan, orang itu pun pergi. Di dusun terdekat, mereka berjumpa dengan seorang perempuan tua. Mereka bertanya, “Apakah Anda mempunyai makanan yang dapat kami beli?”
“Makanan untuk dijual tidak ada. Aku mempunyai makanan sekadar untuk keperluan aku dan anak-anakku”.

Mereka bertanya lagi, “Mana anak-anakmu?”

“Di tempat penggembalaan dan sekarang sudah waktunya mereka pulang.”

“Apa yang Anda sediakan?”

“Roti bakar”

“Selain itu”

“Tidak ada,” kata perempuan itu.

Utusan Ibnu Abbas berkata, “Berilah kami sebagian”.

“Kalau sebagian tidak ada. Kalau mau, semunya, ambillah!” jawaban yang tentu saja mengejutkan. “Memberi sebagain adalah suatu kekurangan, sedangkan memberi semua itu adalah kesempurnaan dan keutamaan. Aku tidak suka kepada yang merendahkanku, tetapi Aku akan memberikan apa yang akan mengangkatku.”
**

PERCAKAPAN dengan perempuan itu dilaporkan kepada Ibnu Abbas. Ia merasa heran sekaligus penasaran. “Coba ajak perempuan tua itu kemari,” ia memerintah utusan tadi.

Di rumah perempuan tua itu, dialog kembali terjadi. “Mari ikut dengan kami menemui majikan kami karena beliau ingin berjumpa dengan Anda”.

“Siapa majikan kalian?”

“Abdullah bin Abbas.”

“Aku tidak mengenal nama ini, siap Abaas itu?”

“Paman Rasulullah saw.”

“Kalau begitu, ia adalah seorang yang mulia dan mempunyai kedudukan tinggi. Apa perlunya dengan saya?”

“Untuk membalas budi Anda.”

Singkat cerita, perempuan itu akhirnya mau menemui Ibnu Abbas.

“Anda dari kabilah mana?” tanya Ibnu Abbas.

“Dari kabilah Bani Kalb.”

“Bagaimana keadaanmu?” tanyanya lagi.

“Jika malam tiba, aku bertahan untuk tidak tidur. Aku melihat segalanya menyenangkan dan dunia ini tidak ada artinya, kecuali seperti yang aku peroleh.”

Ibnu Abbas bertanya, “Apa yang Anda simpan untuk anak-anak Anda jika mereka datang nanti?”

“Aku simpan untuk mereka apa yang telah dikatakan oleh Hatim Aththay’i, ‘Ada kalanya aku tidur kelaparan berkepanjangan sehingga aku dapatkan makanan-makanan yang baik-baik.”

Ibnu Abbas kagum akan jawaban perempuan itu, “Jika anak-anak Anda datang dalam keadaan lapar, apa yang akan Anda lakukan?”

“Hai Fulan, rupanya Tuan telah membesar-besarkan roti itu sehingga Tuan banyak bicara dan memikirkannya. Hilangkanlah sebab itu dapat merusak jiwa dan menyeret ke arah kehinaan.”

Ibnu Abbas memerintah anggota rombongan uintuk mengundang anak-anak perempuan tua itu. Setelah mereka tiba, Ibnu Abbas berkata, “Aku bermaksud akan memberikan sesuatu yang dapat kalian pergunakan untuk memperbaiki keadaan.”

Mereka menjawab, “Hal ini jarang terjadi. Kecuali karena diminta atau karena membalas budi.”

“Hai Fulan, kami hidup dalam berkecukupan. Oleh karena itu, berikanlah kepada orang yang lebih membutuhkannya. Namun, jika Tuan mau memberinya juga tanpa diminta, kebaikan itu akan kami terima dan kami syukuri”.

“Itulah yang aku maksudkan.” Ibnu Abbas pun memberikan uang 10.000 dirham dan 20 ekor unta. ***

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar