Selasa, 14 Agustus 2012

Lalu, Abu Nawas Menjadi Sufi

(Oleh: H. Usep Romli HM, Pikiran Rakyat)

SEPERTI biasa, Abu Nawas alias Abu Hani Muhammad bin Nakami (735-810) keluyuran setiap malam. Ia mabuk-mabukan. Tak peduli saat Ramadan tiba, tatkala ayat-ayat suci bergema dari masjid-masjid di Bagdad yang meriah, di bawah pemerintahan Harun Arrasyid Al’abbasiy.

Bahkan, Abu Nawas meninggikan suara. Membacakan syair-syair secara spontan. Kalimat-kalimat puitis penuh leucon senda-gurau (mujuniyyah), gairah cinta kepada wanita (ghazl), sanjungan bagi seseorang (madh), sindiran halus tetapi tajam (hijaa’), dan puja-puji bagi alkohol (khumrayaat) meluncur dari mulutnya yang bau minuman keras.

Sial, malam itu, Abu Nawas berjalan sempoyongan hingga ke pinggir sungai Efrat, lalu terjerembap jatuh dan tenggelam. Ia tak berdaya disedot oleh pusaran air. Untunglah, seseorang tiba-tiba muncul, lalu menarik badan Abu Nawas dan membaringkannya di bantaran. Ia berkata, “Ya Abaa Hani, idzaa lam takun milhan tushlih, fa laa takun zubaabatan tufsid (Wahai Abu Hani, jika engkau tak mampu menjadi garam yang melezatkan (hidangan), janganlah engkau menjadi lalat yang merusak (hidangan itu)”.

Abu Nawas langsung tersadar, merasa dirinya sebagai lalat, bahkan lebih hina dina. Bertahun-tahun mengarungi kehidupan, tidak membawa manfaat, sebagaimana garam memberi rasa sedap. Justru, ia terus menerus merusak, merusak, dan merusak. Padahal merusak dilarang keras oleh Allah swt. “Laa tufsiduu fi-lardhi. Inna-llaaha laa yuhibbu-lmufsidiin (Alqashash: 77)

Teringat pula ia bahwa malam itu bertepatan dengan Lailatulkadar. Malam seribu bulan. Tatkala malaikat turun ke bumi, menabur dan menebar salam keselamatan dan kesejahteraan hingga fajar datang menjelang.

Malam itu juga, Abu Nawas langsung bertobat. Mengganti syair-syair dengan zikir. Memindahkan malam-malamnya dari kafe, bar, atau pub, ke masjid. Ia tidak ingin lagi menjadi lalat. Biarlah tak menjadi apa-apa asal tidak membawa kerusakan bagi dirinya dan orang lain.
**

BEBERAPA kawan satu “geng’ mendatangi Abu Nawas yang sedang iktikaf di sebuah masjid pada sepuluh malam terakhir Ramadan. “Apa yang keluar dari bibirmu sekarang?” kata kawan-kawannya dengan nada mengejek.

‘Ayat-ayat Alquran,” jawab Abu Nawas, kalem.

“Yang kau pikirkan di kepalamu?”

“Kemahagungan Allah yang sudah mengubah manusia buruk seperti kalian menjadi manusia yang baik seperti aku sekarang”

“Kau habiskan malam-malammu dengan apa?”

“Dengan mendekatkan diriku yang hina dina kepada zat Mahamulia, yaitu Allas swt”.

“Lalu, siang-siangmu keluyuran ke mana?”

“Ke gurun dan samudra petunjuk-Nya yang penuh rahmat dan ampunan. Aku tak akan tersesat di situ karena firman-firman-Nya amat jelas,” kata Abu Nawas. Ia pun mengutip hadis Nabi Muhammad saw, “Afdhalu ‘ibaadati ummatii tilaawatu-lqur (sebaik-baik ibadah umatku adalah membaca Alquran)

Abu Nawas menjadi sufi sejak itu. Ia banyak mengeluarkan syair tasawuf. Salah satunya yang masyur adalah:

Ilaahii, lastu li-lfirdausi ahlan/Wa laa aqwaa ‘ala-maari-ljahiimi/Fa hablii raubatan wa-ghfir dzanuubii (Yuhanku, sunggung aku bukan ahli surga/Aku pun tak kuat (menghadapi) siksa api neraka/Maka terimalah tobat dan ampuni dosaku/Sesungguhnya Engkaulah Sang Maha Pengampun atas segala dosa). (dinukil dari Abu Nawas, Hayaatuhuu wa Sya’iruhuu karya Mustafa Abdurrazzaq)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar