Senin, 02 Juli 2012

Parlemen Pertanyakan Anggaran Perbaikan Hibah Hercules

C-130H Hercules RAAF. Pemerintah menganggarkan anggaran pertahanan Rp 150 Trilyun. Anggaran cukup besar tidak menjamin pembelian alutsista terbaik dikelasnya. Pemerintah lebih mememilih menerima alutsista hibah dan memperbaikinya dengan anggaran cukup besar. Amerika Serikat menghibahkan 24 unit F-16 dan 4 unit sebagai suku cadang, Korea Selatan menghibahkan kendaraan amphibi dan sedang dijajaki hibah satu skuadron F-5, Brunei menghibahkan dua kapal patroli dan Australia empat pesawat angkut C-130H. Alutsista yang dihibahkan karena sudah tidak digunakan lagi oleh negara tersebut. (Foto: MoD)

 3 Juli 2012, Senayan: Tahun lalu Kementerian Pertahanan RI melaporkan kepada Komisi I bahwa TNI Angkatan Udara akan mendapat hibah empat unit pesawat Hercules C-130H dari Pemerintah Australia. Tetapi Kemenhan perlu dana untuk perbaikan pesawat-pesawat tersebut. DPR pun lantas menyetujui anggaran retrofit (peningkatan kemampuan pesawat) sebesar Rp 450 miliar.

"Namun beberapa bulan kemudian Kemenhan melaporkan bahwa Australia membatalkan hibah tersebut. Baru pada awal tahun 2012 pemerintah menyampaikan ulang bahwa hibah empat pesawat dari Australia itu jadi dilaksanakan," ungkap Wakil Ketua Komisi I Tubagus Hasanuddin di Gedung DPR RI, Kompleks Parlemen, Senayan, Senin (2/7).

Menurut Hasanuddin, terdapat hal yang janggal. Keganjilannya, kata dia, dalam hibah itu disebutkan pula tentang kebutuhan dana perbaikan sebesar 60 juta dollar AS atau 15 juta dollar AS per unit.

"Artinya, harganya sama saja dengan beli baru. Lalu apa makna dari hibah tersebut? Kenapa harga perbaikannya sama dengan harga jual?" tanya politisi PDIP ini.

Karena itu, kata Hasanuddin, dalam waktu dekat ini, Komisi I akan mempertanyakan masalah ini kepada Kementerian Pertahanan. "Pertanyaannya adalah kenapa terjadi perbedaan harga antara yang diinformasikan pihak Australia, dengan anggaran yang diajukan Kemenhan pada DPR," ujarnya.

Penandatanganan perjanjian hibah Indonesia-Australia dilakukan dalam pertemuan tahunan kedua negara. Pertemuan tersebut dilakukan hari ini, Selasa (3/7) dimana Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah berada di Australia. Pesawat Hercules C-130H rencananya akan menggantikan Fokker F-27 yang telah usang selagi menunggu pesawat angkut ringan N295 produksi bersama PT Dirgantara Indonesia dengan Airbus Military Spanyol.

Minister for Defence – C-130 Hercules Aircraft Gifted to Indonesia

Australia and Indonesia today signed a Memorandum of Understanding (MoU) for the transfer of four Australian Defence Force C-130 Hercules aircraft to Indonesia.

The signing follows the Prime Minister’s offer in November of last year to Indonesian President Susilo Bambang Yudhoyono to transfer up to four aircraft to Indonesia.

Australia is very pleased to make this contribution to Indonesia’s airlift capability, which will support humanitarian assistance and disaster relief operations.

The C-130 heavy lift transport aircraft will contribute to Indonesia’s capacity to respond to natural disasters and humanitarian crisis.

Indonesia will fund all refurbishment and ongoing maintenance costs associated with the aircraft.

The signing ceremony took place shortly after President Yudhoyono’s arrival at the Royal Australian Air Force Base Darwin today for the second Australia-Indonesia Annual Leaders’ Meeting.

Minister for Defence Stephen Smith and his Indonesian counterpart, H.E. Dr Purnomo Yusgiantoro observed the signing of the MoU by Chief of the Australian Defence Force General David Hurley and Secretary General of the Indonesian Ministry of Defence Air Marshal Eris Herryanto.

The C-130H gifting reflects the strength of the bilateral Australia-Indonesia relationship and close ties between the Australian and Indonesian Defence forces.

Minister Purnomo and Minister Smith also held bilateral talks at Headquarters Northern Command, located at Larrakeyah Army Base in Darwin.

The discussions focused on bilateral defence engagement and the critical role Indonesia and Australia play together in contributing to regional security and addressing global challenges, including through the ASEAN Defence Ministers Meeting-Plus.

Australia and Indonesia are also working to bolster coordination on humanitarian assistance and disaster relief through the East Asia Summit framework.

Sumber: Jurnal Parlemen/Jurnas/MoD

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar