Kamis, 21 Juni 2012

Pernikahan Adat Cirebonan/Pantura

Tahap Pernikahan Adat Cirebon

- Njegog atau tetail (meminang)
Utusan pria datang ke rumah orang tua wanita untuk menyampaikan niatnya meminang anak mereka.

- Seserahan
Orang tua wanita menerima kedatangan utusan pihak pria yang disertai rombongan pembawa seserahan.
Seserahan yang diberikan buah-buahan, umbi-umbian, sayur-sayuran, mas kawin berupa perhiasan dan uang tunai.

- Siram tawandari
Orang tua dan sesepuh calon pengantin bergantian menyirami kedua calon. Bila calon pengantin merupakan keturunan dari keraton kecirebonan, sebelum pernikahan mereka akan melakukan ziarah ke makam Sunan Gunung Jati dan leluhur raja Cirebon untuk meminta restu.

Colon mengantin menggunakan sarung batik khas cirebon bernama kain wadasan berwarna hiaju (melambangkan keseburan).
Bendrong sirat: air bekas siraman pengantin dipercikkan pda anak gadis atau jejaka yang hadir di cara ini.

- Parasan
Juru rias membuang rambut halus (ngerik). Acara ini disaksikan oleh orang tua dan kerabat.
Diiringi musik karawitan moblong yang artinya murub mencur bagaikan bulan purnama.

- Tenteng pengantin
Pihak pengantin wanita mengirimkan utusan untuk menjemput pengantin pria, lalu dilanjutkan dengan prosesi akad nikah.

Orang tua pengantin pria dilarang menyaksikan prosesi akad nikah.
Pada waktu ijab Kabul calon pengantin pria ditutup dengan kain milik ibu penganitn wanita, menandakan pria tersebut menjadi menantunya.

- Salam temon
Prosesi injak telur. Bila penganitn berasal dari keluarga yang cukup berada, biasanya saat salam temon ini diadakan acara gelondongan pangareng, atau membawa upeti berupa barang/harta yang cukup lengkap.

Kulit telur melambangkan wadah/tempat. Putih adalah suci atau pengabdian seorang istri. Kuning adalang lambing keagungan.

- Sawer
Penaburan uang receh yang dicampur dengan beras kuning (tanda agar kedua pengantin diberikan limpahan rezeki)

- Pugpugan Tawur
Kepala pengantin ditaburi oleh pugpugan yang terbuat dari welit (ilalang atau daun kelapa yang sudah lapuk.
Simbol agar pernikahan berjalan awet bagaikan welit yang terikat sampai lapuk.

- Adep-adep sekul
Makan nasi ketan kuning yang berbentuk bulatan kecil sebanyak 13 butir. Masing-masing orang tua pengantin menyuapi sebanyak 4 butir. Pengantin saling menyuapi senyak 4 butir, dan satu butir lagi diperebutkan.
Melambangkan kerukunan dalam rumah tangga, terhadap pasangannya, orang tua, serta mertua.

- Sungkem pada orang tua
Kedua pengantin melakukan sungkem dengan posisi berjongkok.
Ceriman rasa hormat dan kasih sayang terhadap orang tua. Setelahnya didengdangkan Kidung Kinanti sebagai harapa pengantin dapat sela, sekata, sehidup, semati.

- Pemberian restu, upacan selamat atau hiburan
Ada acara hiburan berupa tari-tarian seperti tari topeng, tari bedoyo, dan tari tayub.

Sumber: Pikiran Rakyat

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar